Senin, 02 Oktober 2017

Ketika Kampus Menjadi ladang Bisnis, apa Bedanya dengan Perusahaan?


pendidikan merupakan hal yang harus dilalui manusia agar menjadi manusia berkualitas. Pendidikan juga memiliki peran penting dalam kemajuan suatu Negara, Karena dengan pendidikan lah bisa mengantarkan manusia menjadi SDM yang berguna bagi diri sendiri, keluarga ataupun Negara.

Pendidikan tinggi atau kuliah, dulu saya maknai pendidikan benar-benar berkualitas dan tak sembarang orang dapat mendapatkan gelar tersebut, kampus adalah tempat intelektual muda yang segar akan inovasi dan lapar terhadap ilmu pengetahuan. Itu yang saya pahami dulu, namun nyatanya apakah demikian?. (mungkin sebagian)

PTN BH privatisasi kampus?
Kampus sebagai wadah dari perguruan tertinggi tersebut tak selalu lepas dari berbagai permasalahan. Nyatanya saat ini, kapitalisasi perguruan tinggi marak sekali diperbincangkan. Pernahkah kalian dengar istilah PTN BH? Yaitu perguruan tinggi negeri berbadan hukum. Secara umum dapat kita maknai kampus yang memiliki wewenang dalam mengelola kampus, jadi mereka bisa mencari dana tambahan sendiri guna membenahi fasilitas, gaji dosen karyawan dsb.

Walau kita tahu PTN yang memiliki status tersebut adalah kampus yang memiliki kualitas baik sepeti WCU (World Class University), tapi tetap orientasi bisnis menjadi hal yang sangat wajar. Beberapa kampus yang menyandang PTN BH, kebanyakan memiliki ladang bisnis sendiri.

Selain mendapatkan hak untuk mengelola dan mencari sumber keungan tambahan, pihak kampus juga memiliki wewenang untuk meningkatkan biaya kuliah, menambah jurusan tertentu dan bekerja sama dengan pihak swasta.

Jurusan tak layak pasar
Selain isu PTN BH, kampus sebagai ladang bisnis sebenarnya sudah lumrah dan umum sekali terjadi, coba jawab pertanyaan berikut, apakah kampus membuka jurusan karena factor tuntutan pasar atau tuntutan konsumen?. Lalu apa bedanya dengan perusahaan, logikanya seperti ini, kampus membuka jurusan baru karena tuntutan masyarakat banyak, misalkan jurusan favorit tak segan pihak kampus menambah quota kelas mereka. Padahal apakah setelah lulus mereka di jamin dengan kualitas yang dibutuhkan dunia kerja?.

Oleh karena itu jurusan favorit bukan satu-satunya jalan keluar untuk mendapatkan pendidikan terbaik, namun yang pasti bisa mengobati rasa gengsi atau sekedar memenuhi gaya hidup. Kampus tak ubahnya seperti perusahaan yang menawarkan dagangan, dengan melakukan berbagai ajang promosi dan janji yang akan dipenuhi.

Pendidikan untuk semua orang
Gaya hidup manusia memang tak memiliki batas, bisa mendapatkan kesempatan menimba ilmu di kampus elit merupakan hal yang membanggakan. Namun jika kita kembali pada konsep awal, sebuah pendidikan adalah hak semua orang, namun kenapa fitrah pendidikan suci tersebut harus ternodai dengan kepentingan-kepentingan bisnis. dalam jurnal berjudul “The Liberalization of Education Under the WTO Services Agreement (GATS): A Threat to Public Educational Policy?” disebutkan pendidikan harus bisa diakses oleh semua orang, dengan banyaknya orang mendapatkan pendidikan berkualitas bisa mempengaruhi ekonomi seperti kualitas SDM sebagai tenaga kerja.

Lebih jauh lagi, pendidikan sebenarnya tak serta merta mengenai masalah ilmu pengetahuan saja, namun lebih luas lagi, seperti kesempatan menulis karya ilmiah, turut serta dalam pengabdian masyarakat, akses merata keseluruh lapisan masyarakat dalam menempuh pendidikan, meningkatkan kesejahteraan social dan sebagainya.

_______________________
Akhir kata, pendidikan yang diharapkan pendiri sebagai cita-cita bangsa, masih harus berbenah diri guna mendapatkan output perguruan tinggi yang berkompeten dan layak menyandang gelar sarjana.


Bagikan

Jangan lewatkan

Ketika Kampus Menjadi ladang Bisnis, apa Bedanya dengan Perusahaan?
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.