Jumat, 25 Agustus 2017

Contoh Essay Pendidikan Karakter


Judul : Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Mutakhir
Oleh : Mansur Hidayat

Implementasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan dilaksanakan akhir tahun 2015 dengan sasarannya yang mengintegrasikan ekonomi regional Asia Tenggara menggambarkan karakteristik utama dalam bentuk pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, kawasan pengembangan ekonomi yang merata atau seimbang, dan kawasan yang terintegrasi sepenuhnya menjadi ekonomi global, dengan kalimat “Satu Visi–Satu Identitas–Satu Komunitas” menjadi visi dan komitmen bersama yang hendak diwujudkan oleh ASEAN pada tahun 2020.

Bagi Indonesia, MEA merupakan kesempatan baik karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal tersebut akan berdampak meningkatnya eskpor dan pada akhirnya meningkatkan Gross Domestic Product (GDP) Indonesia. Pada sisi investasi, kondisi ini dapat menciptakan iklim yang mendukung masuknya Foreign Direct Investment (FDI) yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan sumber daya manusia (human capital) dan akses yang lebih mudah kepada pasar dunia.

Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena tersedia banyak lapangan kerja dengan keahlian yang beraneka ragam untuk berbagai kebutuhan. Selain itu, akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi  lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Keunggulan tersebut tak mampu menepis fakta yang menunjukan kehadiran sejumlah tantangan krusial bagi Indonesia agar tak hanya menjadi pasar dalam pelaksanaan MEA. (Armenia, 2015) mengungkapkan bahwa Menteri Perdagangan Rachmat Gobel melihat sedikitnya ada delapan tantangan yang harus diatasi. Dari delapan tantangan tersebut salah satunya adalah kompetensi sumber daya manusia terampil yang belum maksimal. Hal tersebut memberi informasi tentang lemahnya kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang belum mampu mendongkrak keyakinan bangsa Indonesia sanggup bersaing dalam MEA.

Jika tidak segera dilakukan persiapan dalam memperbaiki SDM yang memiliki karakter dan kompetensi baik, maka dikhawatirkan pelaksanaan MEA justru akan menjadi beban baru bagi pemerintah Indonesia dalam hal mengurangi angka pengangguran dan peningkatan ekonomi masyarakat. SDM merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan oleh semua kalangan, selain dari institusi pemerintahan juga masyarakat pada umumnya. Saling bersinergi dalam merekatkan tali kerja sama yang kuat karena mengingat ada beberapa hal dapat berpengaruh terhadap kompetensi SDM berkualitas, salah satunya adalah pendidikan karakter.

Kompetensi SDM merupakan sebuah hasil dari output pendidikan. Sebagaimana dikatakan (Langgulung, 1987) pendidikan mencakup dua kepentingan utama, pengembangan kompetensi individu dan pewaris nilai-nilai budaya. Dengan demikian peran pendidikan sangat berpengaruh untuk mengantarkan SDM memiliki potensi terampil dan professional, (Winarno, 2014) pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana agar potensi manusia dapat tumbuh dan berkembang. Sejalan dengan tujuan tersebut, disusunlah pendidikan dengan mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya hingga layak dan serasi dengan tujuan pengembangan SDM sebagai pendukung nilai-nilai budaya bagi peningkatan kemajuan peradaban.

Lingkungan pendidikan terdapat beberapa lingkup yang saling berpengaruh menciptakan karakter dan pola pikir peserta didik. Pertama, pendidikan keluarga. Merupakan faktor yang penting dalam pembentukan karakter, menurut (Jalaludin, 2013) keluarga mempunyai peran terdepan dalam pembentukan watak dasar atau karakter anak. Karena sejak lahir di dunia lingkungan yang pertama dilihat anak adalah lingkungan keluarga, pada tahap awal perilaku orang tua yang menjadi acuan dalam menilai baik dan buruk, keluarga perlu memberikan pendidikan yang baik pada anaknya, sehingga menjadi hadiah besar untuk perjalanan masa depannnya nanti, dan akan berdampak positif untuk orang tua sebagai bekal investasi masa depan.

Kedua, Teman sebaya juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter, tatkala anak sudah beranjak masa sekolah pergaulan terhadap teman mempengaruhi pola berpikir, kepribadian dan pandangan mengenai baik dan buruk beralih dari orang tua kepada teman sebaya karena anak lebih merasa nyaman ketika bergaul dengan temannya dan lebih terbuka. Teman baik akan menjadikan pribadi baik dan begitu pula sebaliknya, sehingga memilih teman baik juga perlu ditekankan untuk memberikan dampak yang positif. Sebagaimana dikatakan (Winarno, 2014) bahwa pergaulan yang intensif dengan teman sebaya akan mampu memberikan efek yang besar dalam pembentukan karakter.

Ketiga, instansi sekolah adalah fase berikutnya yang bertanggung jawab membentuk karakter peserta didiknya. Diharapkan dapat mengambil alih peran orang tua dalam meneruskan penanaan nilai-nilai untuk membentuk karakter peserta didik. Guru atau pendidik memiliki tugas teramat berat sebagai moncong terdepan yang berinteraksi langsung dengan peserta didik. Al-Ghazali dalam jalaluddin (2013) mengatakan bahwa seorang pendidik memiliki pengaruh sebagai paramount. Pendidik sebagai examplar moral dan moral guide, seorang anak belajar dengan meniru apa yang “dilakukan guru” daripada apa yang “dikatakan guru”.

Pendidikan karakter akan mengantarkan peserta didik pada pengenalan nilai secara kognitif, lalu penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya pada pengamalan nilai secara nyata. Pendidikan telah dipahami mempunyai dua tujuan yang besar, yaitu: membantu peserta didik menjadi pandai dan membantu peserta didik menjadi baik (Lickona, 1991). Pendidik memiliki tugas utama untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan menanamkan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan pada peserta didiknya. Sebagaimana dikatakan (Winarno, 2014) tugas utama pendidik dalam hal transfer of knowledge dan transfer of value.

Pendidikan sebagai konstribusi terbesar dalam pengaruh menciptakan generasi terbaik yang seharusnya memiliki karakteristik untuk memenuhi kebutuhan peserta didiknya. (Abdussalam, 2011). Sebagai amanat, peserta didik merupakan titipan yang harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya oleh yang diberi amanat. Bentuk pelaksanaan amanah itu adalah dengan melaksanakan hak-hak peserta didik dengan baik, serta memberikan pendidikan yang layak dengan mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya. Pembangunan karakter generasi muda akan mendorong identitas anak bangsa di tengah era globalisasi dan akuluturasi budaya dunia. Mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pendidikan mutakhir sangat diperlukan, sehingga bangsa Indonesia memiliki generasi yang berkompetensi dan terampil secara maksimal guna menyongsong MEA.


Bagikan

Jangan lewatkan

Contoh Essay Pendidikan Karakter
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.