Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 November 2017

Motivasi Menulis untuk Mencari Uang dengan Berita Hoax


Semakin berkembangnya media komunikasi semakin banyak pula informasi bertaburan menghiasi penglihatan. Entah itu dalam bentuk visual ataupun tulisan,

kemudahan mencari informasi sering kali tidak diiringi dengan analisis yang mendalam, sehingga pengetahuan yang di dapat hanya sekedar “katanya” tanpa daya dukung yang memadai.

Hal tersebut lebih diperparah dengan semakin banyak orang yang memanfaatkan “tumpul” nya analisis, tanpa cek dan ricek masyarakat saat ini dengan membuat akun sosmed ataupun website informasi palsu.

Dalam forum “blogger” di facebook saya pernah mengutarakan sebuah kalimat, kurang lebih seperti ini “dilema blogger: menulis sepenuh hati atau menulis sepenuh gaji” walaupun sangat sepi respon, bisa dihitung jari, tapi tak ada satupun komentar yang mengelak akan fakta tersebut.

Cara Menulis agar mendapatkan uang?
Sejenak kalimat diatas menarik untuk ditelusuri, banyak sekali sumber yang mengatakan hal positif tentang “menulis = uang”. Fakta dilapangan, tak semudah itu, bahkan penulis ternama pun pasti bermula dari bawah. Membuktikan tidak ada hal “instan” di dunia ini bahkan mie instan pun masih perlu proses untuk layak di makan.

Cara instan mendapatkan uang itulah yang disalahgunakan para penulis dengan “motivasi” uang. Sehingga yang terjadi menulispun bukan karena kualitas tapi hanya sekedar menarik pembaca agar terpaksa membaca, hal tersebut bisa dilakukan dengan trik sebagai berikut: judul berlebihan, strategi SEO on page, riset keyword, konten syarat dengan pro dan kontra dan strategi marketing lainnya.

Alhasil menulis pun dikarenakan “agar banyak yang membaca dengan strategi tersebut, tanpa memperdulikan bahwa tulisannya hanyalah sampah tanpa analisis yang mendalam. Setelah banyak pembaca yang tertarik dengan konten kita, alhasil uang pun bisa diraih dengan banyaknya iklan yang bisa di monetize untuk mendulang rupiah.

Mendapatkan uang dengan Berita hoax
Berita hoax banyak sekali bertebaran di media sosial, saling hujat meng-hujat pun tak bisa dihindarkan. Banyak nitizen tetep “kekeh” dengan pendiriannya lantaran merasa benar dengan dukungan link website (URL) yang membenarkan argument mereka. Lawannya pun demikian memiliki dukungan tersendiri media dengan tulisan sepaham opini mereka. Alhasil pro dan kontra pun bisa dimanfaatkan untuk menulis di kolom berita agar terkesan mendukung salah satu pihak, dan menulis dengan sudut pandang yang berlawanan agar perdebatan tak kunjung usai.

Jelas sekali motivasi “harta karun” Nampak dengan mudah di gali dengan memanfaatkan isu yang kontradiktif.

Bisnis berita hoax memang sangat menggiurkan, “kompor gas” nya adalah kemalasan masyarakat untuk cek dan ricek terhadap informasi yang di dapat. Atau hanya ingin mendapatkan berita yang sesuai dengan selera keinginan mereka.

Temukan kembali makna tulisan sebelum di posting
Sebenarnya mudah saja ketika kita ingin ikut serta mencegah berita hoax propaganda, andai saja banyak kesadaran masyarakat menahan diri agar tidak serta merta menuliskan ujaran kebencian, atau setidaknya berita trending jangan langsung ikut campur tangan dengan cuitan kita. Tahan dulu, cari informasi yang sebenarnya, cari lagi dengan sudut pandang yang berbeda. Berbekal pengetahuan memadai silahkan ikut berkomentar.

Untuk para “kuli tinta” penulis kolom berita online, penulis blog, akun sosmed dengan jutaan followers temukan lagi makna tulisan kalian, atas dasar apa kalian “seharusnya” menulis itu. Kenapa bukan menulis dengan tema yang lain. Jika memang hanya atas dasar uang, jangan salahkan jika Negara ini tumbang karena manuver politik praktis murah meriah, yaitu dengan menggoreng fakta dengan bumbu micin hoax propaganda.


Kedepan jika pola berfikir “kita” masih tumpul seperti itu, bukan tidak mungkin situs ujaran kebencian makin marak menghiasi ranah internet kita. Kesadaran mengenai literasi informasi dan literasi digital sangat semu diperbincangkan memperparah filter informasi sebelum menyebar. Pola berfikir instan intelegensi dan sikap kritis mengikis kemampuan kecerdasan otak untuk menerima informasi dengan sudut pandang yang berbeda. 

#salamLiterasi
#salamAksara
Baca selengkapnya

Kamis, 16 November 2017

Pentingnya Literasi Informasi di Era Generasi Millennial




Mengenalkan generasi millennial sekarang tentang literasi informasi melalui berbagai kegiatan sebagai pembelajaran perlu ditekankan. Banyak sekali pengguna teknologi digital di masa sekarang ini kurang memiliki keahlian dalam hal literasi informasi sehingga banyak sekali informasi sampah bertebaran di social media atupun website tertentu.

Banyaknya pengguna sarana informasi di era zaman now ini menyebabkan terciptnya masalah dan potensi, masalah jika bisa ditemukan akarnya bisa menjadikan potensi untuk berkembang, sebaliknya potensi jika tidak dimanfaatkan sebaiknya pun bisa menjadi masalah. Ibarat pedang bermata dua seperti itulah internet yang kita gunakan sekarang ini.

Informasi dari internet memudahkan kita untuk mengetahui berbagai macam memudahkan kebutuhan, namun faktanya generasi milenial lebih banyak menggunakan media informasi hanya sekedar chating di medsos ataupun game online serta melihat video di youtube.

Tidak semua tahu bagaimana menggunakan media informasi secara cerdas dan tepat guna sesuai kebutuhan. Terbukti dengan banyaknya informasi hoax beredar bebas, penpuan melalui saran online dan kejahatan lain.

Apakah kopas tanpa melihat sumber juga kejahatan? Ya itulah salah satu kejahatan informasi, coba bayangkan jika kegiatan “info dari grup sebelah” itu tanpa literasi informasi jika informasi itu tentang seseorang yang difitnah, betapa jahatnya kita menyebarkan fitnah tanpa kita sadari.

Literasi dahulu diartikan hanya sebatas membaca dan menulis, namun saat ini literasi dipandang lebih mencakup secara luas, membaca dan menulis “hanya” di golongkan sebagai “basic literasi”. Dengan perkembangan dunia yang semakin pesat, informasi silih berganti di ujung dunia pun bisa diketahui, maka perlu adanya literasi informasi untuk menyaring kebenaran informasi yang di dapat.

Pengertian literasi informasi menurut para ahli adalah kemampuan untuk mengetahui kapan dibutuhkannya informasi, untuk dapat di jadikan identifikasi, menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Menurut para pakar literasi seperti American Library Association (ALA), literasi informasi didefinisikan sebagai serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif.

Konsep literasi informasi diperlukan untuk memadukan informasi yang relevan dengan pesatnya kemajuan teknologi. Manfaat literasi informasi adalah tersaringnya informasi positif, atau istilahnya dengan literasi informasi kita bisa menangkal hoax dengan metode atau model literasi informasi.

Literasi informasi dapat memberikan hubungan penting antara msayarakat informasi (pengguna sarana informasi) dengan pembelajaran masyarakat. Kegiatan pembelajaran literasi informasi menyebabkan masyarakat dituntut untuk belajar dan belajar ulang. Karena hidup semakin berkembang, bukan berarti kita pasrah dengan keadaan. Kalau masyarakat tidak belajar kompetensi dan fleksibel dengan perkembangan zaman, bukan tidak mungkin jika zaman akan meninggalkannya.

Contoh lterasi informasi dalam kehidupan sehari – hari setidaknya mereka memiliki beberapa hal sebagai berikut:

*Menentukan informasi yang dibutuhkan saja
*bisa mengakses informasi secara efektif dan efisien
*mengolah informasi dari berbagai sumber yang valid
*menggabungkan informasi yang didapatkan sebagai landasan ilmu pengetahuan
*bisa menggunakan informasi secara efektif untuk tujuan tertentu
*mengetahui isu terkini seperti ekonomi dan hukum, dan bisa menggunakan informasi yang didapatkan secara legal

***
Pengetahuan mengenai literasi informasi memang sangat penting, dan kesadaran tentang hal ini perlu di tekankan kepada semua pihak terutama orang tua dan guru di sekolah, agar generasi kekinian “kids zaman now” bisa memilah dan memilih informasi mana yang dibutuhkan.

Jaman memang sudah berubah, namun buka berarti ada kata terlambat disitu pemahaman tentang literasi informasi bisa menghasilkan generasi penerus yang cerdas dalam menyikapi berbagai hoax media.

_____________
Akhir kata, bersama – sama kita ciptakan internet positif dan penggunaan media informasi secara bijak untuk Indonesia berkemajuan


Salam ^-^
Baca selengkapnya

Rabu, 15 November 2017

Cara Mencegah Informasi Hoax Dengan Pendidikan Literasi


Sebagai salah satu pengguna media sosial terbanyak, Indonesia merupakan Negara dengan jumlah pengguna facebook nomor 4 di dunia, belum akun sosial media yang lain. Banyaknya pengguna sosmed mengakibatkan banyak sekali konten tidak benar tersebar dengan mudah. Lalu bagaimana cara mengatasi berita hoax di internet?

Baca selengkapnya

Senin, 06 November 2017

Literasi dan Generasi Zaman Now


Budaya literasi di Indonesia merupakan yang paling terendah diantara beberapa Negara lain di dunia, buku buku di perpustakaan ibarat barang kuno berselimut debu tak penah tersentuh. Pun dalam sekolah – sekolah  jarang sekali kebiasaan dan pentingnya membaca di prioritaskan kepada siswa atau mungkin gurunya pun tidak memiliki jiwa literasi.

Di satu sisi yang lain, digitalisasi media informasi deras tak terbendung menyerbu semua lapisan masyarakat hingga pedalaman. Perkembangan teknologi informasi belum pernah dalam sejarah mencatat seperi pada sekarang ini, banyak pakar dalam penelitian mereka mengatakan bahwa jika ingin mengikuti perkembangan teknologi seperti smartphone, PC, dan camera dan teknlogi sejenisnya setidaknya harus mengganti teknologi mutakhir setiap enam bulan sekali, bisa di bayangkan betapa derasnya inovasi – inovasi dunia teknologi tersebut.

Dengan demikian, jika dulu kita mengenal dunia hanya lewat buku bahkan ada slogan “buku adalah jendela dunia” hal tersebut bisa ditepis dengan mudah. Jika zaman kecil dulu TV adalah satu – satunya media visual yang menyuguhkan informasi dan hiburan, maka sekarang hal tersebut adalah salah besar. Teknologi memaksa semua orang bertransformasi menuju era serba digital.

Lalu muncul pertanyaan, apakah memang budaya membaca se-minim itu untuk generasi kekinian, apakah ada penelitian mengungkap budaya membaca generasi milenial sekarang ini, yang ada hanyalah laporan – laporan menunjukkan budaya membaca kita memang lemah, tapi itu kan membaca buku konvensional. Bagaimana dengan buku digital, e-book, berita online, jurnal, novel digital ? belum ada data yang benar – benar valid menilai hal tersebut.

Walaupun entah apa yang mereka baca, namun faktanya masih cukup banyak generasi kekinian yang suka membaca, buktinya setiap saat menulis dan membaca status dan story. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya membaca dan menulis memanglah sebuah rutinitas mereka, namun disayangkan kegiatan mereka kurang menemukan faedah yang berarti, kicauan yang bertebaran di medsos menunjukkan lemahnya pengetahuan mereka, hingga tak jarang hal sangat pribadi pun di upload. Memang taka da yang melarang namun secara tidak sadar hal tersebut mencerminkan lemahnya bacaan yang bermutu bagi mereka.

Maka yang diperlukan adalah “daya Tarik” bagaimana menumbuhkan budaya literasi dengan gaya dan cara “kids jaman now” ini di lakukan. Sehingga kesan bahwa buku adalah barang kuno dalam perpustakaan yang horror bisa dengan mudah ditepis. Diperlukan inovasi yang bisa mengantarkan generasi muda saat ini mengenal literasi sebagai kebutuhan mereka.

Potensi menjadikan literasi sebagai sahabat bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi – potensi berupa digitalisasi dan inovasi perpustakaan. Jaman sekarang, buku sudah menjelma menjadi mudah di bawa kemana – mana, perpustakaan bukan lagi satu – satunya tempat untuk melihat semua koleksi buku. Perpustakaan tidak lagi sebagai tempat mencari ilmu, bahkan di kampus – kampus diperpustakaan hanya kumpulan mahasiswa lama yang mengerjakan skripsi atau sekedar mengerjakan tugas sambil wifi an.

Perpustakaan seharusnya bisa menjadikan tempat yang menyenangkan dalam belajar, daya Tarik yang dimaksudkan agar generasi milenial sekarang ini mampu mendekatkan diri mereka dengan bacaan bacaan yang lebih berbobot, salah satunya dengan adanya elektronik perpustakaan, contoh lain seperti website cerpenmu com atau kompasiana (pembaca bisa berkontribusi dan ada reward bagi penulis terbaik) dengan demikian mereka tetap bisa membaca dan menulis tanpa menghilangkan kesan kekinian pada hakikat literasi.

Perpustakaan harus bisa memikat dengan adanya inovasi yang menyenangkan. Menjadikan bacaan sebagai sahabat dan kebutuhan juga perlu ditekankan, maka untuk mewujudkan nya diperlukan kesadaran dari semua pihak terutama seorang guru. Untuk mewujudkan Indonesia membaca memang membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi kebiasaan, namun sangat dimungkinkan bisa terwujud.

_________________________________
#salamLiterasi

#salamAksara
Baca selengkapnya

Rabu, 01 November 2017

Potret Kebobrokan Moral (kids zaman now) Akibat Minimnya Literasi


Indonesia memiliki PR yang teramat berat dalam mengantarkan “produk” pendidikan menjadi sekelas Negara Finlandia, literasi digadang-gadang sebagai pondasi awal agar Negara ini mampu bersaing dengan Negara lain. Karena literasi tidak hanya tentang baca tulis. Dengan literasi orang bisa mengenali jenis informasi, dengan literasi ikut serta dalam memberikan informasi bermanfaat, dengan literasi pula Negara bisa terhindar dari budaya “membebek”.

Kebiasaan membaca masih menjadi topic yang hangat di perbincangkan dalam berbagai acara seminar maupun talkshow. Kali ini, gramedia back to campus dalam acara yang bertajuk #PassionAku yang diselenggarakan oleh UKM Penulis Universitas Negeri Malang di Aula Ki hajar dewantara mencoba menggugah kembali kaula muda untuk memikirkan pentingnya literasi bagi Indonesia berkemajuan.

Kang maman sebagai pembicara utama pada acara tersebut tak henti-hentinya menekankan pentingnya literasi. “Indonesia memiliki minat baca yang sangat rendah yaitu 0,01% bahkan menduduki urutan ke 2 terendah dari 62 negara” ujar seorang notulen sekaligus pencetus acara ILK tersebut.

Hal tersebut di perparah dengan fakta bahwa Indonesia mayoritas seorang muslim, kita semua tahu perintah pertama turun dalam alqur’an bukan sholat, puasa ataupun naik haji tetapi iqro’ (membaca) lalu disusul surat kedua yaitu Al-Qalam yang memiliki arti “pena”. Maka sangat jelas perintah membaca dan menulis (literasi) sudah jauh-jauh diperintahkan dalam al-quran, lalu muncul pertanyaan bagaimana bisa muslim terbanyak di dunia memiliki minat baca sangat rendah, bahkan kalah dengan Negara yang saat ini belum menjadikan islam sebagai agama mereka.

Hal tersebut juga ditekankan oleh mas willy ariwiguna seorang pengelola ruang baca aqil lowokwaru Malang “sebenarnya minat baca masyarakat Indonesia ini tinggi, namun pertanyaannya adalah yang dibaca apa?” sindiran tersebut sangatlah pantas menggambarkan kebiasaan virus “zaman now” di berbagai kalangan, bukan saja anak kecil tapi semua kalangan. Bangun tidur, hangout, menunggu kendaraan, HP merupakan dambaan yang tak bisa lepas dari genggaman.

Budaya literasi jika tidak dikembangkan dengan baik ibarat “bebek” di giring menuju pemotongan hanya nurut saja. Karena teknologi merupakan sumber informasi utama saat ini ibarat pedang bermata dua, selain mempermudah informasi juga boomerang bagi pemiliknya sendiri. Kita ingat peristiwa aksi damai beberapa waktu lalu, massa di datangkan ber juta-juta umat, hanya lewat media sosial mereka meggaungkan agenda mereka. Masih segar juga tentang perkataan gubernur DKI Jakarta Anies baswedan hanya dengan kata “pribumi” bisa menjadikan publik media riuh dengan pro dan kontra. Begitulah kuatnya permainan kata, jika kita bangsa yang besar ini tidak memiliki minat literasi yang tinggi jangan heran jika kita menjadi budak di negeri sendiri.

Berbicara tentang teknologi, Indonesia merupakan salah satu pasar smartphone terbesar di dunia, riset yang dilakukan lembaga riset digital marketing “emarketer” yang dikutip kominfo memperkirakan jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia pada tahun 2018 lebih dari 100 juta pengguna. Pasar yang amat mengiurkan bagi pengembang smartphone dunia. Namun sayangnya penggunaan teknologi tersebut tidak diiringi dengan kemampuan intelegensi dan pengetahuan yang memadai. Maka muncul istilah “kids zaman now” merupakan cikal bakal kebobrokan moral di Indonesia dari penggunaan teknologi.

Maka jangan heran pagi ini juga jutaan orang sudah menyebarkan berita hoax dan ujaran kebencian lewat social media mereka. Jangan heran pula jika trending topic youtube dan search engine google, top pencarian nomor satu Indonesia adalah tentang video porno. lebih mengenaskan lagi jika kalian membuka histats com yaitu situs yang memberikan layanan untuk melihat jumlah pengunjung atau blog setiap harinya, disitu coba kalian lihat blog/website popular dengan pengunjung terbanyak setiap harinya 10 top pengunjung Indonesia adalah situs porno. Mengherankan bukan?

Maka sudah jelas kita perlu berbenah diri, Indonesia tidak butuh kritikan Indonesia butuh seorang yang memiliki jiwa perubahan. Mulailah dari diri sendiri, misalnya menerapkan metode triangulasi dalam penyebaran informasi grup WA, kenali dulu, gali informasi agar tidak ikut serta dalam menyebarkan berita hoax.

Sepertinya bangsa ini perlu belajar lagi dari tokoh-tokoh terdahulu seperti ki hajar dewantara dengan “taman siswa” dijadikan panutan Negara finlandia, mengantarkan nomor 1 dengan pendidikan dan literasi terbaik di dunia.

________________________
Akhir kata, mengutip dari perkataan kang maman ”jangan menjadi apatis, tapi skeptis”

mulailah dengan membudayakan literasi pada diri kalian sendiri, lalu saudara, dan teman teman kita.
Baca selengkapnya

Selasa, 10 Oktober 2017

Pengertian dan Prinsip Pendidikan Literasi


Pegertian literasi
Literasi dalam dalam bahasa inggir Literacy yang berasal dari bahasa Latin littera (huruf) pengertiannya melibatkan penguasaan sistem tulisan dan konvensi-konvensi menyertainya. Namun demikian, literasi utamanya berhubungan dengan bagaimana bahasa itu digunakan. Adapun sistem bahasa tulis itu sifatnya sekunder. Ketika berbicara mengenai bahasa, tentunya tak bisa lepas dari pembicaraan mengenai budaya, karena bahasa itu sendiri merupakan bagian dari budaya. Oleh karena itu, definisi istilah literasi tentunya harus mencakup unsur yang mencakup bahasa itu sendiri, yakni situasi sosial budayanya. Berkenaan dengan ini Kern (2000) mendefinisikan istilah literasi secara komprehensif sebagai berikut:

Literacy is the use of socially-, and historically-, and culturallysituated practices of creating and interpreting meaning through texts. It entails at least a tacit awareness of the relationships between textual conventions and their context of use and, ideally, the ability to reflect critically on those relationships. Because it is purpose-sensitive, literacy is dynamic – not static – and variable across and within discourse communities and cultures. It draws on a wide range of cognitive abilities, on knowledge of written and spoken language, on knowledge of genres, and on cultural knowledge.

(Literasi ialah penggunaan praktik-praktik kondisi sosial, dan historis, serta kultural yang menciptakan serta menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi membutuhkan setidaknya sebuah kepekaan yang tidak terucap tentang hubungan-hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan konteks kegunaannya serta ideal kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan-hubungan tersebut. Karena peka dengan maksud atau tujuan, literasi tersebut bersifat dinamis tidak statis serta dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas. kultur diskursus atau  wacana. Literasi membutuhkan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan kultural).

Pernyataan di atas diketahui bahwa literasi membutuhkan kemampuan yang kompleks. Adapun pengetahuan mengenai genre adalah pengetahuan mengenai jenis-jenis teks yang berlaku atau digunakan dalam komunitas wacana misalnya, teks naratif, eksposisi, deskripsi dan lain-lain. Terdapat setidaknya tujuh unsur membentuk definisi tersebut, yaitu berkenaan dengan interpretasi, kolaborasi, konvensi, pengetahuan kultural, pemecahan masalah, refleksi, dan penggunaan bahasa. Ketujuh hal tersebut setidaknya merupakan prinsip-prinsip dari literasi.

Prinsip Pendidikan Literasi
Menurut Kern (2000) terdapat tujuh prinsip pendidikan literasi, yaitu sebagai berikut:

1.       Literasi melibatkan interpretasi
Penulis atau pembicara dan pembaca atau pendengar berpartisipasi dalam tindakan interpretasi, yaitu: penulis atau pembicara menginterpretasikan dunia (peristiwa, pengalaman, gagasan, perasaan, dan lain-lain), dan pembaca atau pendengar kemudian mengiterpretasikan interpretasi penulis atau pembicara dalam bentuk konsepsinya sendiri tentang dunia.

2. Literasi melibatkan kolaborasi
Terdapat kerjasama antara dua belah pihak yaitu penulis atau pembicara dan membaca atau pendengar. Kerjasama yang dimaksud tersebut kedalam upaya menuju suatu pemahaman bersama-sama. Penulis atau pembicara memutuskan apa yang seharusnya ditulis atau dikatakan atau yang tidak perlu ditulis atau dikatakan berdasarkan pemahaman mereka mengenai pembaca atau pendengarnya. Sementara pembaca atau pendengar mencurahkan motivasi, pengetahuan, dan pengalaman mereka sehingga dapat membuat teks penulis bermakna.

3. Literasi melibatkan konvensi
Orang-orang membaca dan menulis atau menyimak dan berbicara itu ditentukan oleh konvensi atau kesepakatan kultural (tidak universal) yang berkembang melalui penggunaan dan dimodifikasi untuk tujuan-tujuan individual.

4. Literasi melibatkan pengetahuan kultural
Membaca dan menulis atau menyimak dan berbicara berfungsi dalam sistem-sistem sikap, keyakinan, kebiasaan, cita-cita, dan nilai tertentu. Sehingga orang-orang tersebut berada di luar suatu sistem budaya itu rentan atau beresiko salah dipahami oleh orang-orang yang berada dalam system budaya tersebut.

5. Literasi melibatkan pemecahan masalah
Perkataan tersebut akan terus melekat ke dalam konteks linguistik serta kondisi yang mencakupinya, oleh karena itu tindakan menyimak, berbicara dan membaca serta menulis itu bisa melibatkan upaya membayangkan hubungan-hubungan antara kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, unit-unit makna, teks-teks, dan dunia-dunia. Upaya tersebut membayangkan atau memikirkan atau mempertimbangkan ini merupakan suatu bentuk pemecahan masalah.

6. Literasi melibatkan refleksi dan refleksi diri.
Pembaca atau pendengar dan penulis atau pembicara memikirkan bahasa dan hubungan-hubungannya dengan dunia dan diri mereka sendiri. Setelah mereka terdapat dalam kondisi komunikasi mereka memikirkan apa saja yang telah mereka ucapkan, bagaimana mengucapkannya, dan mengapa mengucapkan hal tersebut.

7. Literasi melibatkan penggunaan bahasa
Literasi tidaklah sebatas hanya dalam sistem-sistem bahasa (lisan atau tertulis) namun mensyaratkan pengetahuan mengenai bagaimana bahasa itu digunakan baik dalam konteks lisan ataupun tertulis sehingga menciptakan sebuah wacana atau diskursus.


Berdasarkan penjabaran diatas kita dapat mengetahui bahwa prinsip pendidikan literasi adalah literasi yang melibatkan interpretasi, kolaborasi, konversi, pengetahuan kultural, pemecahan masalah dan refleksi diri serta melibatkan penggunaan bahasa.
Baca selengkapnya

Senin, 09 Oktober 2017

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Langkah Kecil Membangun Peradaban


Berdasarkan amanat menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, salah satu hal yang tertuang dalam peraturan tersebut yaitu mewajibkan membaca 15 menit. Berdasarkan amanat tersebut dirjen dikdasmen meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Praktik pembelajaran saat ini dinilai berbagai pihak belum sepenuhnya optimal, rendahnya kompetensi peserta didik dinilai menjadi faktor yang perlu diperhatikan, salah satunya dalam hal membaca. Kurangnya minat baca oleh peserta didik dinilai lemahnya pengembangan minat baca dalam proses pendidikan. Oleh karena itulah diperlukan kegiatan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar, GLS diluncurkan dengan harapan bisa meningkatkan minat literasi sejak usia dini.

Setidaknya ada 6 komponen literasi menurut Clay Dan Ferguson

*Literasi Dini (Early Literacy)
Kemampuan menyimak, mengerti bahasa lisan, dan berkomunikasi gambar ataupun lisan yang dibentuk oleh lingkungan sosial sejak dini dalam lingkup rumah (keluarga). Perkembangan literasi dasar perlu dukungan komunikasi dengan bahasa ibu sebagai fondasi dasar Pengalaman peserta didik

*Literasi Dasar (Basic Literacy)
Kemampuan peserta didik untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan dalam menganalisis memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan peserta didik.

*Literasi Perpustakaan (Library Literacy)
Memberikan pemahaman, seperti cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan peserta didik yang memudahkan dalam penggunaan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi di saat sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.

*Literasi Media (Media Literacy)
Kemampuan mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, misalkan media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), serta memahami tujuan penggunaan masing-masing media.

*Literasi Teknologi (Technology Literacy)
Kemampuan peserta didik memahami kelengkapan teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dalam memanfaatkan teknologi. Selanjutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet juga diperlukan. Dalam praktiknya, pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) Sejalan dengan perkembangan informasi yang sangat pesat karena kemajuan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi.

*Literasi Visual (Visual Literacy)
Pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, mengembangkan kemampuan peserta didik dalam kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual dengan kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbatas, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik.

_________________________________
Literasi yang komprehensif dan saling berkaitan inilah sebagai bekal peserta didik untuk berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat sesuai kompetensi dan perannya sebagai warga Negara.

Pemahaman literasi sejak dini memang sangat diperlukan, maka gunanya gerakan literasi sekolah (GLS) ini merupakan langkah kecil menuju peradaban yang lebih baik. Sosialisasi oleh pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat, lembaga, organisasi, dan pemerintah daerah khususnya untuk bersama-sama mendukung gerakan tersebut.

GLS tidak akan bisa berjalan tanpa dukungan seluruh lapisan elemen masyarakat. Pentingnya literasi perlu di gaungkan ke seluruh penjuru nusantara tanpa terkecuali.

Jangan biarkan layu
Diakui atau tidak terkadang program pemerintah sebagus apapun konsepnya tak jarang terganjal di tengah perjalanan. Jangan sampai hingar-bingar GLS hanya di awalnya saja dan setelah itu mulai kehabisan energi lalu merangkak tumbang. Hal tersebut bisa terjadi jika komponen sekolah sebagai pelaksana utama GLS tidak menjadikan literasi sebuah kebutuhan namun hanya sebatas kewajiban dan peraturan pemerintah.

Ibarat sebuah tanaman program GLS masih tergolong berumur muda, masih perlu pemeliharaan, pemupukan dan perhatian semua pihak sehingga dapat tumbuh besar dan berbuah manis. Sebagai tanaman baru GLS rentan serangan “hama” yang menyebabkan rentan dan rapuh.

__________________________
Tujuan mulia tersebut memang perlu di dukung semua pihak agar bisa terealisasikan secara nyata dalam bidang akademik. Maka tak perlu diragukan lagi, langkah kecil tersebut bisa berdampak besar di kemudian hari.

#salamliterasi

#salamaksara
Baca selengkapnya

Jumat, 06 Oktober 2017

Bingung Menulis? Berikut Inspirasi Menulis Dari Tere Liye


Siapa yang tak mengenal sosok penulis best seller berbagai macam genre novel tersebut. Bang tere sapaan akrab pria kelahiran 21 Mei 1979 yang berasal dari Sumatra selatan itu. bang tere hanya memiliki akun sosmed satu-satunya yaitu facebook. Sejak tulisan ini dibuat pengikut fans page FB bang tere menembus hamper 4jt orang. Mungkin penulis dengan pengikut terbanyak di Indonesia.

Menariknya dari tere liye adalah, beliau tidak suka di ekpose di media, bahkan di page  FB nya pun tidak ada fotonya sama sekali, kalau kalian mencari foto tere liye di penjarian mbah gugel pun sangat jarang ditemui, lebih banyak quote-quote galau ala tere liye yang tersebar.

Menulis merupakan hal yang mudah tapi ada sulitnya juga, kendala menjadi seorang penulis yang sering dihadapi oleh penulis awal adalah berhenti menulis, bigung mau nulis apa lagi, tidak ada inspirasi menulis dan akhirnya menunda-nunda untuk menulis hingga akhirnya tidak lagi menulis.

Pada kesempatan kali ini, saya mencoba mengumpulkan dari beberapa sumber, mengenai pesan dan inspirasi menulis dari bang tere liye, yang selama ini meng-inpiasi saya untuk tidak berhenti menulis.

Penulis yang baik memiliki sudut pandang special
Menulis bisa bertemakan apa saja, bisa mengenai pengalaman sehari hari, pun bisa menulis dari apa yang kamu baca. Namun poin pentingnya disini adalah, penulis yang baik selalu menemukan sudut pandang yang spesial. Tulisan-tulisan yang dianggap biasa saja bisa diubah menjadi hal yang tidak terpikirkan orang lain, misalnya jika kebanyakan orang menulis makalah ataupun jurnal ilmiah dengan permulaan kata “di zaman globalisasi saat ini” atau “dewasa ini” cobalah mengganti dengan kata yang lain. Atau contoh lain dari kecil kebanyakan dari kita kalau ada tugas menggabar kenapa selalu gunung dan sawah, seakan hanya itu saja gambar pemandangan.

Penulis yang baik, bisa menulis dengan persepsi yang berbeda, sehingga kesannya bisa menarik. Walau sejatinya hanya tulisan diary saja. Maka tugas kalian sekarang adalah menemukan sudut pandang yang special itu.

Amunisi menulis
Setelah kalian menentukan topic atau tema yang akan ditulis, tidak jarang setelah di depan notebook pikiran itu serasa blank atau bingung mau nulis dari mana. Disinilah amunisi menulis dibutuhkan, insipirasi/ide menulis tersebut diperlukan agar proses penulisan berjalan lancar. Jika kurang amunisi yang terjadi menulis satu kalimat dihapus lagi, dua kalimat merasa ada yang kurang dihapus lagi, begitu seterusnya di depan notebook tak menghasilkan apapun.

Seperti ungkapan bang tere “misalkan saja sebuah teko, jika tidak terisi bagaimana bisa mengisi gelas dengan air penuh?”

Pertama yang harus dilakukan untuk mengisi amunisi adalah

*membaca
Dengan banyak membaca kosa kata, pola kalimat, dan susunan paragraph bisa kita nilai dan pelajari dengan mudah. Lalu selanjutnya bisa kita “jiplak” bacaan tersebut ke dalam tulisan kita. Menjiplak disini bukan berarti copas tetapi menemukan alur dan ide tulisan kita. Misalkan kita ingin menjadi wirausaha sukses hal yang harus dilakukan adalah temukan idolamu, siapa tokoh inspiratif wirausaha yang sukses, pelajari kisah nya sejak kecil. Dari situlah kalian bisa mengambil pelajaran dan menerapkan apa-apa yang dia lakukan sehingga menjadi sukses seperti sekarang.

*perjalanan
Dengan melakukan perjalanan, kalian juga bisa menemukan ide tulisan kalian. Perjalanan disini bukan berarti harus traveling ke berbagai tempat wisata. Perjalanan bisa menuju pasar, kerabat dekat atau sekedar berjalan ke sungai misalkan. Nah dari situ banyak sekali hal yang bisa kalian tulis, berjalan ke sungai memikirkan “bagaimana menyadarkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan”, apapun itu yang kalian jumpai bisa jadi amunisi kalian menulis.

*temui orang bijak
Orang bijak disini bukan selalu seorang motivator layaknya Mario teguh atau ippo santoso. Semua orang memiliki perjalanan hidup, kalian Tanya ke penjual bakso “cara membuat bakso yang enak” tentu dia mahir mengatakannya. Seperti ungkapan bang tere bahwa sebenarnya dia bukan seorang yang mahir “melepaskan” atau seorang ahli dalam “cinta sejati” namun beliau bisa dekat dengan orang-orang bijak, belajar dengan lawan bicaranya sehingga bisa menyerap ilmu untuk amunisi tulisan-tulisannya.

Menulis kalimat pertama
Menulislah dengan gaya bahasa kalian sendiri, pokoknya apa yang ada dikepala tulislah, nanti setelah sampai di tengah-tengah, kalian dengan mudah bisa mengganti kalimat pertama tadi menjadi lebih baik. Banyak dari penulis bingung seperti apa awal tulisan mereka, deduktif atau induktif, naratif atau if if if yang lain. Menurut bang tere jika hanya ingin menulis fiksi (bukan karya ilmiah) tidak usah berpatokan pedoman tersebut. Pasal pertama “tidak ada aturan dalam menulis” jika ada yang bilang ada aturan menulis, silahkan kembali ke pasal satu.

Dan setelah kalian menulis banyak sekali lalu kalian bingung mau menutup dengan kalimat/kata seperti apa gampang saja, tuliskan saja kata “TAMAT”, dan itulah yang terjadi pada novel hafalan sholat delisa, ketika beliau bingung mau nulis apa lagi, beliau hanya menulis kata “TAMAT” saja. Itu bisa kalian terapkan dalam tulisan kalian, satu hal yang tidak boleh mengakhiri tulisan seperti itu, SKRIPSI.

Menulislah menulislah dan menulislah
Untuk tips yang terakhir kali ini adalah teruslah menulis apapun yang terjadi, kalian tidak akan menjadi penulis yang hebat jika tidak mulai menulis saat ini juga.

“waktu yang tepat untuk menanam pohon kepenulisan ialah 20 tahun yang lalu. Maka jika saat ini kalian berumur 20 tahun sejak lahir kalian sudah menanam pohon tersebut, dan saat ini kalian melihat pohon itu tumbuh besar, buahnya lezat pun kalau pohon itu mati kalian bisa memanfaatkannya menjadi kayu bakar. Tapi sayangnya semua orang mengerti nasihat itu baru sekarang, sudah sangat terlambat. Namun jangan berkecil hati, karena kesempatan menanam pohon kepenulisan kedua, adalah saat ini. Siapapun yang ingin menjadi penulis, tanamlah pohon saat ini juga, tak masalah jika pohonnya kecil, boleh jadi 5-6 tahun ke depan pohon itu sudah besar
__________________________________
MENULIS ADALAH BERBAGI ^_^

Referensi

Baca selengkapnya