Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 November 2017

Motivasi Menulis untuk Mencari Uang dengan Berita Hoax


Semakin berkembangnya media komunikasi semakin banyak pula informasi bertaburan menghiasi penglihatan. Entah itu dalam bentuk visual ataupun tulisan,

kemudahan mencari informasi sering kali tidak diiringi dengan analisis yang mendalam, sehingga pengetahuan yang di dapat hanya sekedar “katanya” tanpa daya dukung yang memadai.

Hal tersebut lebih diperparah dengan semakin banyak orang yang memanfaatkan “tumpul” nya analisis, tanpa cek dan ricek masyarakat saat ini dengan membuat akun sosmed ataupun website informasi palsu.

Dalam forum “blogger” di facebook saya pernah mengutarakan sebuah kalimat, kurang lebih seperti ini “dilema blogger: menulis sepenuh hati atau menulis sepenuh gaji” walaupun sangat sepi respon, bisa dihitung jari, tapi tak ada satupun komentar yang mengelak akan fakta tersebut.

Cara Menulis agar mendapatkan uang?
Sejenak kalimat diatas menarik untuk ditelusuri, banyak sekali sumber yang mengatakan hal positif tentang “menulis = uang”. Fakta dilapangan, tak semudah itu, bahkan penulis ternama pun pasti bermula dari bawah. Membuktikan tidak ada hal “instan” di dunia ini bahkan mie instan pun masih perlu proses untuk layak di makan.

Cara instan mendapatkan uang itulah yang disalahgunakan para penulis dengan “motivasi” uang. Sehingga yang terjadi menulispun bukan karena kualitas tapi hanya sekedar menarik pembaca agar terpaksa membaca, hal tersebut bisa dilakukan dengan trik sebagai berikut: judul berlebihan, strategi SEO on page, riset keyword, konten syarat dengan pro dan kontra dan strategi marketing lainnya.

Alhasil menulis pun dikarenakan “agar banyak yang membaca dengan strategi tersebut, tanpa memperdulikan bahwa tulisannya hanyalah sampah tanpa analisis yang mendalam. Setelah banyak pembaca yang tertarik dengan konten kita, alhasil uang pun bisa diraih dengan banyaknya iklan yang bisa di monetize untuk mendulang rupiah.

Mendapatkan uang dengan Berita hoax
Berita hoax banyak sekali bertebaran di media sosial, saling hujat meng-hujat pun tak bisa dihindarkan. Banyak nitizen tetep “kekeh” dengan pendiriannya lantaran merasa benar dengan dukungan link website (URL) yang membenarkan argument mereka. Lawannya pun demikian memiliki dukungan tersendiri media dengan tulisan sepaham opini mereka. Alhasil pro dan kontra pun bisa dimanfaatkan untuk menulis di kolom berita agar terkesan mendukung salah satu pihak, dan menulis dengan sudut pandang yang berlawanan agar perdebatan tak kunjung usai.

Jelas sekali motivasi “harta karun” Nampak dengan mudah di gali dengan memanfaatkan isu yang kontradiktif.

Bisnis berita hoax memang sangat menggiurkan, “kompor gas” nya adalah kemalasan masyarakat untuk cek dan ricek terhadap informasi yang di dapat. Atau hanya ingin mendapatkan berita yang sesuai dengan selera keinginan mereka.

Temukan kembali makna tulisan sebelum di posting
Sebenarnya mudah saja ketika kita ingin ikut serta mencegah berita hoax propaganda, andai saja banyak kesadaran masyarakat menahan diri agar tidak serta merta menuliskan ujaran kebencian, atau setidaknya berita trending jangan langsung ikut campur tangan dengan cuitan kita. Tahan dulu, cari informasi yang sebenarnya, cari lagi dengan sudut pandang yang berbeda. Berbekal pengetahuan memadai silahkan ikut berkomentar.

Untuk para “kuli tinta” penulis kolom berita online, penulis blog, akun sosmed dengan jutaan followers temukan lagi makna tulisan kalian, atas dasar apa kalian “seharusnya” menulis itu. Kenapa bukan menulis dengan tema yang lain. Jika memang hanya atas dasar uang, jangan salahkan jika Negara ini tumbang karena manuver politik praktis murah meriah, yaitu dengan menggoreng fakta dengan bumbu micin hoax propaganda.


Kedepan jika pola berfikir “kita” masih tumpul seperti itu, bukan tidak mungkin situs ujaran kebencian makin marak menghiasi ranah internet kita. Kesadaran mengenai literasi informasi dan literasi digital sangat semu diperbincangkan memperparah filter informasi sebelum menyebar. Pola berfikir instan intelegensi dan sikap kritis mengikis kemampuan kecerdasan otak untuk menerima informasi dengan sudut pandang yang berbeda. 

#salamLiterasi
#salamAksara
Baca selengkapnya

Kamis, 16 November 2017

Pentingnya Literasi Informasi di Era Generasi Millennial




Mengenalkan generasi millennial sekarang tentang literasi informasi melalui berbagai kegiatan sebagai pembelajaran perlu ditekankan. Banyak sekali pengguna teknologi digital di masa sekarang ini kurang memiliki keahlian dalam hal literasi informasi sehingga banyak sekali informasi sampah bertebaran di social media atupun website tertentu.

Banyaknya pengguna sarana informasi di era zaman now ini menyebabkan terciptnya masalah dan potensi, masalah jika bisa ditemukan akarnya bisa menjadikan potensi untuk berkembang, sebaliknya potensi jika tidak dimanfaatkan sebaiknya pun bisa menjadi masalah. Ibarat pedang bermata dua seperti itulah internet yang kita gunakan sekarang ini.

Informasi dari internet memudahkan kita untuk mengetahui berbagai macam memudahkan kebutuhan, namun faktanya generasi milenial lebih banyak menggunakan media informasi hanya sekedar chating di medsos ataupun game online serta melihat video di youtube.

Tidak semua tahu bagaimana menggunakan media informasi secara cerdas dan tepat guna sesuai kebutuhan. Terbukti dengan banyaknya informasi hoax beredar bebas, penpuan melalui saran online dan kejahatan lain.

Apakah kopas tanpa melihat sumber juga kejahatan? Ya itulah salah satu kejahatan informasi, coba bayangkan jika kegiatan “info dari grup sebelah” itu tanpa literasi informasi jika informasi itu tentang seseorang yang difitnah, betapa jahatnya kita menyebarkan fitnah tanpa kita sadari.

Literasi dahulu diartikan hanya sebatas membaca dan menulis, namun saat ini literasi dipandang lebih mencakup secara luas, membaca dan menulis “hanya” di golongkan sebagai “basic literasi”. Dengan perkembangan dunia yang semakin pesat, informasi silih berganti di ujung dunia pun bisa diketahui, maka perlu adanya literasi informasi untuk menyaring kebenaran informasi yang di dapat.

Pengertian literasi informasi menurut para ahli adalah kemampuan untuk mengetahui kapan dibutuhkannya informasi, untuk dapat di jadikan identifikasi, menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Menurut para pakar literasi seperti American Library Association (ALA), literasi informasi didefinisikan sebagai serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif.

Konsep literasi informasi diperlukan untuk memadukan informasi yang relevan dengan pesatnya kemajuan teknologi. Manfaat literasi informasi adalah tersaringnya informasi positif, atau istilahnya dengan literasi informasi kita bisa menangkal hoax dengan metode atau model literasi informasi.

Literasi informasi dapat memberikan hubungan penting antara msayarakat informasi (pengguna sarana informasi) dengan pembelajaran masyarakat. Kegiatan pembelajaran literasi informasi menyebabkan masyarakat dituntut untuk belajar dan belajar ulang. Karena hidup semakin berkembang, bukan berarti kita pasrah dengan keadaan. Kalau masyarakat tidak belajar kompetensi dan fleksibel dengan perkembangan zaman, bukan tidak mungkin jika zaman akan meninggalkannya.

Contoh lterasi informasi dalam kehidupan sehari – hari setidaknya mereka memiliki beberapa hal sebagai berikut:

*Menentukan informasi yang dibutuhkan saja
*bisa mengakses informasi secara efektif dan efisien
*mengolah informasi dari berbagai sumber yang valid
*menggabungkan informasi yang didapatkan sebagai landasan ilmu pengetahuan
*bisa menggunakan informasi secara efektif untuk tujuan tertentu
*mengetahui isu terkini seperti ekonomi dan hukum, dan bisa menggunakan informasi yang didapatkan secara legal

***
Pengetahuan mengenai literasi informasi memang sangat penting, dan kesadaran tentang hal ini perlu di tekankan kepada semua pihak terutama orang tua dan guru di sekolah, agar generasi kekinian “kids zaman now” bisa memilah dan memilih informasi mana yang dibutuhkan.

Jaman memang sudah berubah, namun buka berarti ada kata terlambat disitu pemahaman tentang literasi informasi bisa menghasilkan generasi penerus yang cerdas dalam menyikapi berbagai hoax media.

_____________
Akhir kata, bersama – sama kita ciptakan internet positif dan penggunaan media informasi secara bijak untuk Indonesia berkemajuan


Salam ^-^
Baca selengkapnya

Senin, 13 November 2017

Berhentilah Pura – pura Bahagia di Sosial Media


Melihat siklus hidup kids zaman now, mengingatkan salah satu kutipan quotes tahun ini “pajanglah fotomu sebanyak-banyaknya di medsos, niscaya esok akan terkenal". Ungkapan tersebut bukan tanpa dasar, smartphone kekinian sudah dilengkapi kamera dengan resolusi tinggi, tak perlu kamera mahal untuk menghasilkan foto selfie.

Bagai daun berguguran di musim kemarau, kini banyak generasi milenial memoles wajahnya dengan aplikasi gratisan, bahkan smartphone paling dicari saat ini adalah dengan spek kamera resolusi tinggi, jangan heran jika vendor smartphone melakukan promo besar-beasaran dengan produk andalan dilengkapi kamera super canggih yang mampu merubah seperti artis korea, layaknya bungklon bisa merubah warna kulit dalam sekejab.

Detik ini juga ribuan orang memajang foto mereka seperti dagangan yang diobral murah, dalam prakteknya pun kini tak mengenal perbedaan agama, suku dan budaya. Yang berkult hitam menjadi putih, yang sudah putih makin kinclong.

Seperti itulah gambaran dunia saat ini, benar saja jika bang tere dalam statusnya pernah mengatakan “cari pasangan jangan karena cantik atau ganteng saja lihat foto di instagram hari ini, tidak ada satupun yang terlihat jelek” pembenaran tersebut merupakan sebuah keniscayaan generasi muda kini.

Maka pertanyaannya mudah saja, apakah seperti itu yang dinamakan hidup? Apakah kalian nyaman dengan kehidupan penuh tipu daya tersebut, sadarlah jika kalian bertemu teman yang super cantik di instagram, boleh jadi dalam kehidupan nyata pun biasa saja. Sampai kalian sadar pada waktunya nanti wajah bisa berubah, waktu tidak akan terulang kembali, sebuah kesia – siaan akan sadar jika waktunya telah tiba.

Seperti kalian melihat foto kalian masih kecil, terkadang malu, risih, kok aku dulu geje seperti itu. Pun saat tua nanti jika kalian masih hobi selfie ria akan merasakan hal yang sama.

Terkadang saat kita meninggalkan kesibukan di sosmed kita seperti terbangun dari mimpi di siang hari, karena hanya hati diri kita sendiri yang bisa menilai “apakah memang seperti itu?”

Tubuhmu bukan konsumsi public
Bayangkan saja jika kalian mengumbar foto – fotomu di sosial media, bahkan orang yang tak dikenalpun bisa menikmati paras mu, apa yang akan kamu persembahkan untuk pasangan hidup kalian? cukuplah untuk dirimu sendiri menyimpan keindahan tubuh dan kecantikanmu, simpanlah untuk pasangan mu.

Jika kita belanja di pasar, barang yang dipajang paling depan tanpa bungkus atau barang display produk di supermarket bisa jadi adalah barang tidak berkualitas yang diperuntukkan tester untuk public boleh di coba. Barang memiliki kualitas baik akan tersimpan dengan baik ditempatnya terbungkus dengan rapi, bukan untuk pajangan saja.

Analogi sederhana tersebut bisa menyadarkan kita, mau berpihak pada barang berkualitas atau hanya sebagai konsumsi public tanpa memiliki kredibilitas yang mumpuni?

Kebahagiaan yang sesaat
Apa sih yang kalian cari dari postingan selfie kalian di sosmed? Kalau bukan kebahagiaan apalagi, pujian?. Kebahagiaan pasti di dapat tapi hanya sesaat, orang lain boleh iri dengan foto kita, tapi hanya sesaat kalian akan dilupakan dengan wajah – wajah yang lain lebih keren dan menggoda bermunculan. Kebahagian semu yang didapat, selebihnya? Nothing!

Cinta sejati?
Mendapatkan cinta jika karna wajah, maka wajah adalah ketertarikan yang amatlah semu, kalau wajah sudah berubah? Cintapun tak seperti dulu, cinta bisa berubah. Bukankah jauh lebih bahagia ketika seseorang memuji mu langsung tanpa memakai rias apapun, tanpa embel – embel palsu.

Maka carilah pasangan yang tak mengumbar selfie di medsos, cintailah apa adanya karena cinta sejati bukan karena wajah, tapi cinta adalah tentang perasaan.
_________________________________
Letakkan HP mu, keluarlah, lihatlah dunia sesungguhnya
Baca selengkapnya

Sabtu, 11 November 2017

Perubahan Tren Menghadapi Dunia Kerja Generasi Milenial


Menghadapi era digitalisasi saat ini, banyak perubahan – perubahan yang entah disadari atau tidak akan menjadikan generasi muda memandang pekerjaan berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika kita kilas balik tentang keinginan sebagian besar masyarakat menginginkan anaknya bekerja sebagai PNS atau kerja kantoran, namun semakin ketatnya persaingan menjadi pegawai bukan legi sebagai keinginan populer generasi milenial.

Setiap hari terjebak macet
Beberapa waktu lalu, nitizen tengah digemparkan dengan iklan baliho sebuah perusahaan ojek online, bagaimana tidak papan reklame besar di atas jalan tersebut hanya menampilkan tulisan padat, seperti iklan di kolom berita Koran harian. Namun menariknya, hal yang menjadi inti dari iklan tersebut adalah semakin sesaknya jalan memaksa kita (para pekerja) hanya menghabiskan waktu di jalanan yang macet.

Semakin sesaknya jalanan kota, para pekerja/pegawai tidak mempunyai waktu maksimal untuk keluarga, hal tersebut menambah stress dengan rutinitas seperti itu setiap hari, berangkat kerja pagi – macet, pulang kerja sore – macet lagi. Penelitian yang disampaikan seorang pengamat di amerika, tren pekerjaan semakin bergeser dikarenakan teknologi.

Disebutkan bahwa sedikitnya 20% pekerja di amerika memilih keluar dari pekerjaan nya dan memilih bekerja lepas. Kenapa sampai demikian? Beberapa alasan tersebut diantaranya adalah kemacetan dan fleksibiltas waktu yang terkuras habis karena pekerjaan, mereka tidak menikmati gaya hidup dengan rutinitas setiap hari seperti itu. Dan diprediksi besaran perpindahan mindset tersebut bakal meningkat seiring berjalannya kemajuan teknologi. Lalu apakah Indonesia juga demikian?

Teknologi memaksa perubahan
Membaca tulisan rhenald kasali membuat saya sebagai seorang mahasiswa jurusan bisnis manajemen merasa apa – apa yang dipelajari di kampus terkesan sangat kuno dan jadul untuk era saat ini, ketika pemuda saat ini menyebut start up dosen dan beberapa buku yang saya pelajari masih menyebutnya sebagai UMKM, ketika di kampus diajarkan strategi 4P (Product, Price, Place dan Promotion) sebagai salah satu marketing stratejik nyatanya hal tersebut tidak dibutuhkan lagi bagi pemasar online.

Dijelaskan lebih lanjut oleh seorang guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut adalah teknologi memaksa PHK atau pemberhentian pegawai besar – besaran sedang terjadi, sebagai contohnya adalah
*dengan adanya system elektronik penjaga toll tidak lagi dibutuhkan
*elektronik banking memaksa perusahaan digitalisasi bank, dampaknya banyak memberhentikan teller
*maraknya toko online memberi dampak pada retail – retail modern menutup beberapa gerainya, akhirnya pegawai banyak yang menanggung beban pengangguran

Contoh diatas hanyalah sebagian kecil dampak perubahan teknologi memakan banyak korban menjadi pengangguran.

Tren pekerjaan generasi milenial
Namun lebih lanjut lagi bagi seorang yang memikirkan peluang dengan adanya perkembangan teknologi merupakan sebuah peluang pekerjaan baru. Tidak hanya sebagai ancaman, teknologi pun memunculkan tren pekerjaan – pekerjaan baru yang belum terfikirkan oleh para orang tua. Ada hal yang sangat menggelitik disaat presiden jokowi sedang membagikan sepeda kepada anak – anak sekolah dasar, saat itu presiden menanyakan kepada seorang murid yang ditunjuk kedepan, “nak apa cita – citamu saat dewasa nanti?” tak ada yang menduga anak SD tersebut dengan polosnya menjawab “ingin menjadi youtuber” sontak tawa pun tak bisa ditahan oleh bapak presiden, ketika ditanya apa alasannya “karena youtube bisa menghasilkan uang”.

Hal menariknya adalah seorang anak SD memandang pekerjaan bukan lagi seperti pandangan orang tua, mereka melihat bahwa ada sesuatu yang menarik yang bisa mereka kerjakan untuk mendapatkan uang, bukan lagi seorang dokter, insinyur atau guru, walaupun pekerjaan tersebut masih banyak diminati namun survey yang dilakukan Linkedin yang dikutip Liputan6 mengungkapkan bahwa pekerjaan paling banyak diminati saat ini adalah pekerjaan mengenai IT.
                                                                                                                                                                                            
Maka jika memang pengangguran bertambah karena teknologi menggantikan peran pekerja, sudah saatnya SDM kita dilatih untuk menghadapi perkembangan teknologi saat ini, yaitu menciptakan inovasi dan pekerjaan – pekerjaan baru yang belum sempat terfikirkan.

___________________

Sudah siapkah kita menghadapi perubahan tersebut?
Baca selengkapnya

Selasa, 31 Oktober 2017

Ada apa Dengan Calon Menantu Seorang Petani? (pemuda zaman now)


Menjadi petani adalah pilihan terakhir yang mungkin tergambar dalam benak pemuda Indonesia saat ini (pemuda zaman now) alih-alih meneruskan perjuangan orang tua, mereka memilih merantau di kota besar untuk mencari pekerjaan lebih baik. Memangnya dengan bertani tidak lebih baik?

Pemuda zaman now lebih merasa percaya diri menjadi seorang penjaga villa, pelayan restoran, kasir retail modern dari pada menggantungkan nasibnya terhadap hasil pertanian, sehingga tak bisa dipungkiri menurut survey yang dilakukan LIPI (Pusat Ilmu Pengetahuan Indonesia) beberapa waktu lalu, di daerah jawa tengah rata-rata usia petani adalah diatas 50 tahun. Lah pemudanya kemana?

Regenerasi sama sekali tidak terbangun, motivasi menjadi seorang petani tidak terbentuk pada jiwa muda. Bahkan saya tekankan lagi, lulusan IPB (Institut Pertanian Bogor) apakah lalu ingin bergelut dalam bidang pertanian secara langsung. Mungkin hanya dalam lingkup Dinas pertanian dan lembaga pemberdayaan masyarakat. Lagi-lagi untuk terjun langsung menjadi seorang petani merupakan pilihan terakhir “jika” tidak mendapatkan pekerjaan di kota.

Tidak mengherankan saat ini banyak pemerhati sosial tengah merasakan ada semacam ancaman kepunahan pertanian Indonesia, memang terkesan berlebihan. Salah satu alasan kenapa pemuda zaman now tidak ingin menjadi petani karena identik dengan kemiskinan, ndeso, dan plosok. Sama sekali tidak ada menariknya bagi kaum milenial.

Masalah Internal Petani
Pertama, jiwa bertani tidak diturunkan pada anak. Sering sekali dijumpai sebagai seorang petani ataupun buruh tani merasakan beratnya kehidupan mereka, “menjadi petani itu susah le, kamu sekolah yang pinter biar jadi PNS” kesannya menjadi petani adalah orang rendahan.

Banyak dijumpai di beberapa daerah, para petani saat ini membutuhkan buruh tani seorang pemuda jarang sekali ditemukan. Untuk menggarap sawah saja mencari pekerja (buruh) sulitnya minta ampun, kalaupun ada hanyalah para kumpulan orang-orang sepuh, yang seharusnya sudah pensiun.

Kedua, produksi dan pendapatan tidak seimbang menyebabkan muncul istilah “mau tidak mau”. Menjadi petani sebagian orang mengatakan “untung-untungan” jika saat harga naik panen, mereka bisa mendapatkan hasil lumayan begitupula sebaliknya. Padahal harga hanyalah dimanipulasi pelaku pasar, sebagai petani bisa apa, mereka hanya pasrah “mau tidak mau” menjualnya dengan harga murah. Karena tidak semua hasil pertanian bisa ditimbun.

Ketiga, bibit dan pupuk kian mahal mengakibatkan petani menambahkan pundi-pundi uang mereka hanya untuk mengolah lahan mereka kembali. Subsidi pemerintah juga tidak sampai sektor paling membutuhkan, dari atas memang banyak bantuan berupa pupuk dan bibit tanaman, sampai petani mereka disuruh bayar untuk mengambil bantuan tersebut, dengan alasan “administrasi”.

Lahan pertanian kian menyusut
Tak bisa dipungkiri, lahan pertanian kian memprihatinkan. Kita boleh mengapresiasi kinerja pemerintahan dengan pembangunan sampai ke daerah-daerah, namun hal yang perlu diperhatikan adalah lahan yang digunakan sebagai pijakan bangunan tersebut adalah sawah berhektar-hektar. Sempat membaca artikel di beberapa daerah “petani mendadak menjadi miliarder” menjadi headline sebuah berita di berbagai media.

Mereka patut berbangga diri memiliki uang banyak, tapi lahan mereka juga musnah tidak memiliki lagi asset rill berupa lahan pertanian. Seperti ungkapan ketua Komunitas Pengusaha Padi dan Beras (KPPB) Endro Sulistyono “lahan pertanian semakin berkurang akibat pembangunan. Padahal banyak lahan bagus untuk pertanian tapi dialih fungsi untuk industry”.

Pemuda bertani, kenapa tidak?
Lahan yang terbatas sebenarnya bisa diatasi dengan melakukan kegiatan usaha tani system aquaponik, hidroponik, tabulampot (tanam buah dalam pot) dan tasalamkar (tanam sayur dalam karung) merupakan salah satu solusi dengan keterbatasan lahan saat ini.

Limbah pertanian jika ditangani dengan ilmu yang memadai juga bisa dimanfaatkan untuk “mendulang” pundi-pundi rupiah. Seperti menjadikannya pupuk organic, pakan ternak dan energi alternative. Namun juga perlu ilmu dan peralatan yang memadai, maka dari itu kalian sebagai pemuda yang memiliki inovasi dan ambisi masih fresh seharusnya bisa memanfaatkan peluang tersebut.

Menjadi petani di desa juga tidak selalu buruk. Hal tersebut juga disadari berbagai pengamat sosial, tingkat stress pekerja di perkotaan jauh lebih tinggi di desa, walaupun terkesan ndeso mereka jauh lebih menikmati hidup, berkumpul dengan keluarga daripada menunggu kemacetan di kota-kota besar.

Dalam era teknologi dewasa ini peluang pertanian merupakan lirikan manis bernilai emas. Bukan sebuah rahasia umum prospek pekerjaan tani merupakan aspek menjanjikan. Seorang pemuda asal bandung Charlie Tjendapati mampu menepis keraguan menjadi petani identik dengan kemiskinan, dia hanya menekuni usaha kangkung hidroponik pada lahan yang tidak begitu luas mampu meraih puluhan juta rupiah dari bertani tersebut. Contoh lain, Safrigayang petani muda berasal dari dataran tinggi Goya Aceh tengah juga bisa membuktikan dengan bertani bisa meraup jutaan rupiah dari usaha kentang dan Kol organiknya.

Saya contohkan pemuda karena hanya merekalah yang mampu memiliki ilmu, jaringan dan informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan lahan pertanian. Berkaca pada kesuksesan banyak pemuda di berbagai daerah, seharusnya bisa memotivasi pemuda zaman now untuk tergerak menjadi deretan petani muda sukses selanjutnya.

______________________________
Akhir kata, Indonesia bisa swasembada pangan jika semua pihak bersinergi bahu-membahu meningkatkan perkembangan sektor pertanian, terlebih kamu sebagai PEMUDA.

#salamLiterasi

#salamAksara
Baca selengkapnya

Rabu, 18 Oktober 2017

Kuliah Tidak Menjamin Sukses, Namun ini 5 Alasan Kamu Seharusnya Kuliah


Ketika memasuki akhir masa putih abu-abu, banyak siswa merasa dibingungkan dengan tiga pilihan, kerja, kuliah, atau nikah?. Banyak dari mereka mencari referensi dan informasi akan kemana kah masa depan mereka setelah menempuh sekolah tingkat atas. Semoga tulisan ini dapat memberikan pengetahuan sekaligus pencerahan untuk langkah kalian.

Kuliah? Siapa yang bilang menjamin kerja dengan gaji tinggi, kalau ada yang mengatakan dengan kuliah, memperoleh gelar sarjana maka akan dijamin mendapatkan pekerjaan merupakan sebuah kebohongan, bahkan ada yang mengatakan kalau kuliah kebanyakan hanya akan bekerja di level karyawan sebuah perusahaan.

Tapi dengan hal tersebut jangan menistakan manfaat kuliah sebenarnya,

1.       Kuliah untuk mencari ilmu?
Di era melenial sekarang ini banyak sekali ilmu pelajaran kuliah tersebar di internet dan bisa disantap dengan gratis, namun namanya ilmu tidak bisa langsung di lahap begitu saja, perlu adanya tahap-tahap yang hanya dengan penyampaian “pengajar” bisa kalian pahami dengan lebih mudah.

Dengan kuliah, dosen tidak hanya bertugas sebagai transfer of knowledge tapi juga transfer of value sehingga apa yang kalian dapat dari kuliah tidak hanya sebatas ilmu secara nyata namun juga sikap dan perilaku lebih dewasa dalam menyikapi berbagai problematika.

2.       Mengasah kemampuan mu
Dalam dunia kampus kalian tidak harus berfokus pada studi kalian, banyak sekali organisasi dan UKM yang bisa kalian ikuti untuk mengasah kemampuan atau hobi mu. Setidaknya kalian akan terjun menjadi panitia sebuah acara, sehingga kemampuan kalian berdaptasi dan bekerja sama dalam tim dapat terbentuk sejak bangku kuliah, tentu hal tersebut sangat bermanfaat ketika kalian memasuki dunia kerja ataupun ketika sudah bermasyarakat.

Selain itu dengan mengikuti berbagai macam organisasi dan kegiatan mahasiswa, kalian akan mendapatkan relasi yang banyak, memang saat kuliah tidak akan merasakan hal tersebut, namun setelah memasuki dunia kerja, relasi dan network sangat penting, jauh lebih baik jika kalian bisa kenal akrab dengan dosen, senior, ataupun partner organisasi kalian.

3.       Mendapatkan pekerjaan dengan syarat sarjana
Kuliah memang tidak menjamin kerja, pun kalau kalian tidak kuliah apalagi, lebih parah.
Tapi kan banyak sekali sarjana menganggur?,
sarjana aja menganggur apalagi yang tidak sarjana.
Tapi kan banyak juga yang tidak perlu kuliah bisa sukses dan jadi bos di perusahaannya sendiri?
Lebih banyak sarjana yang sukses dan jadi bos di perusahaan sendiri.

Selain itu banyak pekerjaan yang “hanya” bisa di masuki dengan syarat sarjana, misalnya menjadi seorang guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Sehingga tetaplah kalau kalian ingin memasuki ranah pekerjaan tertentu KULIAH merupakan hal yang wajib kalian tempuh

4.       Kuliah tidak hanya semata untuk pekerjaan
Hal ini yang banyak sekali salah diartikan oleh masyarakat kita, bahwa kuliah hanya sebagai “batu loncatan” untuk memperoleh pekerjaan, padahal tidak hanya semata pekerjaan saja kalian harus kuliah tapi lebih dari itu.

Misalkan ada dua orang
*pertama. dia seorang perempuan lulusan SMA, bekerja sebagai buruh rumah tangga.
*kedua. Dia seorang perempuan lulusan kuliah, “masih nganggur” di rumah.
----jika kalian seorang cowok, sudah bekerja dan ingin mencari istri yang kelak bisa mengasuh anak kalian dari kedua pilihan tersebut, mana yang akan kalian pilih?

Dengan istri seorang sarjana, walau nganggur itupun sebenarnya tidak menganggur, siapa yang berkewajiban mencari nafkah? Suami kan, istri hanya dirumah saja mengasuh anak dan keperluan rumah itupun sudah jauh lebih baik. Lalu ada yang nyolot, lahhh… kuliah ujungnya Cuma jadi ibu rumah tangga. Well kalian lebih mempercayakan anak (buah hati) kepada istri yang berpendidikan tinggi atau pembantu yang motivasi kerja hanya sebatas gaji lalu kalian pertaruhkan masa depan si buah hati? Hmmm…

Itu hanya contoh kecil saja, jika kuliah tidak hanya semata untuk kerja tapi banyak hal yang lain
Misalkan lagi………….

Kalian punya dua teman
*pertama, hanya berpendidikan SMA “masih nganggur”
*kedua, seorang sarjana dengan pengetahuan luas “masih nganggur” juga

Dari kedua teman kalian tentu dalam menyikapi berbagai persoalan memiliki perbedaan, selain itu, sikap, perilaku, pemikiran dan analisis tentu seorang sarjana lebih unggul.

Membanggakan orang tua
Manfaat selanjutnya jika kalian kuliah dan memperoleh gelar sarjana adalah membanggakan orang tua, orang tua mana yang tidak terharu melihat anaknya dan bersama-sama mengambil ijazah kelulusan saat wisuda.

Bahkan guru SMP saya dulu pernah berpesan, salah satu indikator kesuksesan orang tua adalah dengan mengantarkan anaknya berpendidikan lebih tinggi dari orang tuanya. Misalkan orang tua kalian lulusan SMA apakah rela orang tua hanya mengantarkan kalian setara dengan pendidikannya, tentu orang jauh lebih bangga dengan pendidikan anaknya diatas orang tuanya.

Dengan demikian sudah seharusnya kalian berusaha untuk mencapai kebahagian orang tua kalian dengan membawa gelar sarjana.

____________________________

Akhir kata, “life is choice” pilihan mu akan mengantarkan mimpi mu
Baca selengkapnya

Rabu, 11 Oktober 2017

Ternyata Merokok Berdampak Positif


Mungkin kalian membaca judul diatas ini adalah clickbait, tapi coba kalian lebih rasional dan berfikir lebih positif. Persoalan merokok memang selalu menjadi berdebatan, diantara umat beragama ataupun sesama agama selalu memperdebatkan hukum rokok tersebut.

Kebanyakan media selalu memberitakan bahaya rokok, filter rokok import mengandung daging babi, bahaya rokok bagi kesehatan, merokok membunuhmu, merokok bla. Bla. Bla. Namun kali ini saya akan menggambarkan dari sisi yang berbeda agar informasi tersampaikan secara dua arah, lalu setelah kalian membaca ini terserah mau merokok atau tidak.

Slogan “merokok membunuhmu”
Sebenarnya sepele, jika memang rokok itu membunuh kenapa juga perusahaan rokok tidak dilarang Negara untuk memproduksi, malah mereka bebas promosi di mana pun (walau ada etika iklan). Terlepas dari itu slogan merokok membunuhmu merupakan politik dan ekonomi.

Percaya atau tidak slogan merokok membunuhmu hanya lah akal-akalan politik paraktis, dibalik logika kesehatan tersebut terselubung keserakahan kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global dalam bidang kretek. Pertarungan politik bisnis internasional menyebabkan Indonesia kehilangan kekayaan negeri sendiri.

Dulu Indonesia pernah Berjaya dengan penjualan minyak Bandar, kini telah luluh lantak karena bombardir minyak sayur (dengan isu sama tidak baik untuk kesehatan). Nah hal yang sama dilakukan pada rokok kretek. Matinya kopra, garam, gula, minyak Bandar, jamu dan kretek menandakan matinya komoditas nasional.

Maka.. selamat datang para penguasa rokok dunia, dan selamat tinggal untuk rokok kretek lokal yang merangkak menunggu ajalnya…………..

___________________
Industri rokok
Menariknya rokok merupakan penghasilan yang menggiurkan bagi pekerja dan cukai untuk Negara. Industry rokok menyumbang besar terhadap pendapatan Negara. Industry berbahan baku tembakau ini memang sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, industry ini juga melibatkan secara langsung maupun tidak terhadap jutaan orang.

Menurut menperin (menteri perindustrian) industry rokok melibatkan sedikitnya 6,1 juta orang yang menggantungkan secara langsung atau tidak pendapatan mereka terhadap diproduksinya rokok, karena itu rokok dan produksinya sudah menjadi sejarah masyarakat Indonesia, terutama rokok kretek.

Jadi jelas kan, rokok secara tidak langsung menopang jutaan orang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bahkan untuk penerimaan cukai Negara dari 4 perusahan rokok saja sudah mencapai 125 trilun menyumbang pendapatan Negara.

______________________
Manfaat bagi perokok
Setelah tadi kita membahas mengenai konspirasi dibalik slogan melarang rokok dan manfaat rokok dalam menyumbang pendapatan Negara. Kali ini akan di jabarkan apa saja manfaat rokok bagi perokok.

·         Menghindarkan dari perbuatan jahat karena tidak pernah ditemukan orang yang membunuh, mencuri atau berkelahi sambil merokok.
·         Mengurangi resiko terhadap kematian! Dalam berita tidak pernah ditemukan orang meninggal dalam posisi merokok.
·         Berbuat amal kebaikan! Kalau ada orang mau pinjam korek api paling tidak sudah siap atau tidak mengecewakan orang jika ingin meminjam.
·         Baik untuk basa-basi/keakraban! Kalau bertemu orang misalnya di halte kita bisa menawarkan rokok. Kalau basa-basinya menawarkan uang kan nggak lucu.
·         Memberikan lapangan kerja! buruh rokok, dokter, pedagang asongan serta perusahaan obat batuk.
·         Bisa untuk alasan untuk tambah gaji! karena butuh asbak untuk rokok dan resiko baju berlubang terkena api rokok.
·         Bisa menambah suasana alam (nature) bagi ruangan ber-AC asap rokok bisa membuat efek seolah-olah berkabut.
·         Dapat menghilangkan bau wangi-wangian ruang bagi yang alergi terhadap bau parfum.
·         Jika  mobilnya mogok karena busi ngadat tidak ada api, maka sudah siap api dari puntung rokok.
·         Melatih kesabaran dan menambah semangat pantang menyerah! bagi pemula, merokok itu tidak mudah, batuk-batuk dan tersedak tapi tetap saja diteruskan maka dia akan lulus.
·         Untuk indikator kesehatan! Biasanya orang yang sakit pasti dilarang dahulu merokok. Jadi yang merokok itu pastinya orang sehat.
·         Menambah kenikmatan! Sore hari minum kopi dan makan pisang goreng sungguh “nikmat tuhan mana yang engkau dustakan”. Apalagi ditambah merokok!
·         Sebagai tanda kalau hari sudah pagi! kita pasti mendengar ayam merokok.
·         Anti maling! waktu perokok batuk berat di malam hari, malingnya kabur duluan dikira belum tidur.
·         Membantu Film Koboy lebih gaya! merokok sambil naik kuda, soalnya kalau sambil ngupil susah betul.
·         Bahan inspirasi serta pendukung membuat tugas akhir (skripsi), maka seharusnya dicantumkan terima kasih untuk rokok pada kata sambutan

________________________

Jadi jelaskan merokok positif ………….. bagi perokok ^_^
Baca selengkapnya

Kamis, 21 September 2017

Sistem e-tilang terbaru? Pengalaman Tilang Slip Biru Luar Kota


Kali ini saya akan mencoba membagikan pengalaman saya pribadi mendapatkan teguran dari pak pol yang sedang menjalankan tugas. Perlu diketahui memang saat ini marak sekali cegatan atau istilahnya operasi polisi untuk menertibkan pengendara. Entah kebetulan atau tidak, saat ini utang negara untuk pembangunan sangat deras sekali, bersamaan juga semua instansi diketatkan masalah administrasi, gerakan berantas pungli dan korupsi oleh beberapa lembaga sangat gencar sekali.

Dulu teman saya buat SIM Cuma bayar aja tanpa tahu tes nya seperti apa SIM udah dikantongin. Di era saat ini selain makin sulit tesnya berbasis IT, polisi juga ndak mau di sogok. Alhasil saya belum mengantongi surat izin mengemudi (SIM), bukan apa-apa memang terkadang tidak menyempatkan waktu, karena pengalaman dari SMK tak pernah memegang SIM sekalipun belum pernah kena tilang.

Mungkin saat ini teguran buat saya agar segera mengurus surat izin tersebut, sudah sering kali saya pulang pergi (Ngawi-Malang) menggunakan sepeda motor, pertama saya bareng rekan dekat, hingga akhirnya saya memberanikan diri OTW sendirian, beberapa kali tidak mendapatkan masalah berarti, takutnya sih cuman ban bocor, karena saking ndak pernah ketemu sama pak pol.

Bahkan ketika main ke pantai, batu, pujon, ngantang daerah malang dan sekitarnya juga ndak pernah kena operasi pak pol. Pada saat itu, setelah menyelesaikan PPL dalam benak saya ingin sekali pulang kerumah juga sekaligus meminta do’a untuk kelancaran skripsi saya, pulang hanya membawa uang 20Rb saja dari Malang. Nekad? Banget. Tapi bensin udah saya isi Full.

Sebenarnya saya udah diingetin teman saya kalo lampu depan mati, tapi apa mau dikata tekad udah bulat, apapun yang terjadi budalkan saja.

Keluar dari jalan alun-alun batu, perasaan udah ga enak, merasa ada yang ganjil, jadi inget kalo polisi sering operasi di jam-jam efektif yaitu sekitar jam 09.00 sampai jam 14.00, nah saya sampai batu sekitar pukul 10.00.

Sampai di pertigaan songgoriti, saya kepikiran untuk ambil jalur kanan (satu jalur) tapi sempet inget teman saya ke-tilang karena salah jalur, saya memutuskan lewat jalur benar (kiri- jalan berliku menuju pujon).

Memang jodoh tak kemana-mana, persis di kelokan pertama setelah SPBU, banyak sekali polisi melakukan interogasi kepada pengguna jalan untuk ketertiban surat-surat pengendara.

Udah ndak bawa uang, lampu depan mati, ndak bawa SIM, kena cegatan lagi, pasrah dah mau gimana lagi. Ketika ditanya saya jawab aja jujur “ndak ada SIM pak” akhirnya saya di suruh menepi untuk ditanya-tanya, sebenarnya saya menyiapkan HP untuk merekam jika polisi minta uang pungutan, saya punya bukti. Tapi ternyata saya langsung di sodori surat/slip berwarna biru.

Entah apa bedanya slip biru dan merah rumor yang beredar jika slip biru kita pasrah mengakui kesalahan kalau slip merah kita ndak tahu apa kesalahan kita/ngeyel. Bedanya lagi (masih menurut rumor) kalau slip merah kita menunggu hasil sidang untuk ditentukan bayarnya berapa, kalau slip biru harus membayar sejumlah denda maksimal yaitu tertuang pada UU No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Berapa tilang SIM? Sebesar 1 Juta. Busyet dah.

Benar saja saat itu juga saya ditanya kelengkapan identitas untuk mengisi slip biru, lalu ditanya Nomor HP yang katanya nanti akan di SMS nomor Briva tilang untuk pembayaran denda tilang di ATM BRI. Saya merasa ada yang ndak beres,

saya tanya balik,
saya “pak saya mau sidang bukan transfer”
pak pol “iya mas, ini sidang”
saya “kok pake transfer segala, saya mau bayar di pengadilan pak”
pak pol “iya mas, jadi sistem baru saat ini adalah e-tilang, anda membayar sejumlah denda maksimal, kepada bank yang ditunjuk sebelum H-4 tanggal sidang lalu bukti transfer dibawa ke pengadilan untuk mengambil STNK”
saya “tapi pak, saya dari luar kota?”
pak pol “apa transfer sekarang 1 Jt di bank, nanti kembali kesini mengambil STNK”

pikiran saya udah buntu, memang pengalaman sidang baru kali ini, juga mengenai sistem e-tilang, ataupun peraturan baru mengenai tilang belum pernah ada sosialisasi.

Akhirnya saya hanya bisa pasrah, begitu pak pol tanya “apakah ada lagi yang bisa ditanyakan” saya hanya diam aja gak tau harus bilang apa. Akhirnya saya memutuskan pulang melanjutkan perjalanan ke Ngawi dengan pikiran antara sebal dan bingung.

***
Memang banyak versi yang mengatakan sistem e-tilang tersebut, setelah saya tanya saudara ataupun grup FB (Info Cegatan) info mengenai sistem e-tilang ataupun tilang slip biru banyak sekali versi.

1. karena slip biru, saya membayar denda maksimal sejumlah 1Jt di Bank BRI

2. Jangan transfer. Ikut sidang aja pada tanggal tertera nanti bayar aja di sana

3. transfer aja, nanti ada sejumlah uang kembalian dari pengadilan jika dijatuhi denda ringan.

4. jangan transfer, jangan ikut sidang, biarkan kadaluarsa, nanti silahkan ambil STNK di kejaksaan dengan membayar denda kecil.

Entah bagaimana bisa begitu banyak versi, tapi saya tak ingin ambil pusing, saya tanya ke polisi daerah saya (BABINSA) menurut beliau memang peraturan baru menggunakan sistem e-tilang BISA dilakukan untuk memepermudah para pelanggar lalu lintas. Saya tanya balik, “kalau ndak transfer gimana pak, satu juta lumayan”. Beliau menjelaskan tidak apa-apa.

Akhirnya sampai pada tanggal sidang saya tidak men-trasnfer sejumlah uang. Dan anehnya saya tinggal mengambil STNK di Kejaksaan bukan di pengadilan negeri (PN) dengan membayar 100Rb.

_______________________

Dari cerita diatas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa perlu adanya sosialisasi dari kepolisian mengenai peraturan tilang agar masyarakat juga sadar akan pentingnya mematuhi peraturan dan meminimalisir akan pungutan liar, karena masyarakat paham. BUKAN info simpang-siur yang mereka dapat.

Akhir kata, semoga dengan ini kita bisa lebih tertib berkendara, dan jika kalian terkena operasi polisi hadapilah dengan bijak. Asal kita benar kenapa harus takut.

Kalau memang TERBUKTI salah ya ikuti peraturan yang berlaku.


SEMOGA BERMANFAAT…………
Baca selengkapnya