Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Menjadi Pegawai atau Berwirsausaha? Sekolah tinggi ujungnya cari kerja


Setelah lama tak menulis, kali ini saya mencoba kembali mengulik permasalahan kompleks yang dihadapi hampir semua orang terutama mereka yang memakan bangku sekolah. Tak perlu mengherankan lagi, banyak media menyoroti problematika mengenai “sulitnya cari kerja”, mulai dari jumlah terus meningkat setiap tahun sampai rincian jenis sekolah terakhir yang mereka tempuh.
Lalu muncul pertanyaan, siapakah yang paling berhak disalahkan?

Baca selengkapnya

Minggu, 19 November 2017

Pendidikan dan Kekinian untuk Generasi Z


Apa pengertian generasi Z
Menurut generasi teori menyebutkan ada beberapa tingkatan dalam membagi golongan generasi menurut tahun lahirnya, Generasi X, lahir 1965-1980,  Generasi Y, lahir 1981-1994, Generasi  Z, lahir 1995-2010, dan Generasi Alpha, lahir 2011-2025.

Generasi z merupakan kelanjutan dari generasi milenial, sejak kecil mereka sudah mengenal adanya internet dan social media. Perubahan – perubahan kecil pun tak bisa dihindarkan, mereka tidak lagi menggunakan Koran bahkan televisi sebagai sumber utama dalam mendapatkan informasi, namun menempatkan social media dan berita online pada urutan pertama dalam mendapatkan informasi.

Karakteristik generasi z
Cerdas teknologi, tak perlu diragukan mengenai kemampuan bermain teknologi, mereka besar dalam lingkungan perkembangan teknologi yang pesat. Bahkan tak jarang pula dikala orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka diberi mainan smartphone oleh orang tuanya.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi Y pertumbuhan teknologi baru tersentuh mulai sekolah menengah sampai sekolah atas, mereka tumbuh dewasa masih menggunakan permainan tradisional sebagai teman kecil mereka.

Sangat kontras sekali dengan generasi Z yang bahkan sudah memiliki akun social media sejak SD, menurut pakar IT (nukman luthfie) tipe generasi z ini bisa disebut sebagai generasi digital, dan terbagi menjadi dua kategori, yaitu tipe pembuat konten (creator) dan tipe memakai hanya sarana percakapan (conversationalist)

Kehidupan sosial, generasi z dalam sarana jejaring sosial lebih mengedepankan dunia maya sebagai sarana sosial kehidupan mereka. Mereka bisa menggunakan fecebook, twitter dan IG untuk sarana komunikasi.

Meskipun terkesan terkurung dalam dunia digital, potensi mereka jauh lebih baik dalam melihat peluang pekerjaan. Sejauh ini pandangan terhadap generasi z masih banyak menilai positif, mereka lebih serba bisa, berfikir global, berfikiran terbuka, lebih cepat terjun ke ranah pekerjaan dan yang pasti lebih ramah teknologi.

Berwawasan, mereka terkesan memiliki pandangan lebih terbuka dengan mudahnya sarana teknologi, informasi dari seluruh dunia pun mereka cepat tahu. Keberagaman menjadi hal unik dalam diri mereka, mereka terbiasa dengan memadukan bermacam kegiatan menjadi satu (multitasking) misalkan mendengarkan music, sambil membaca, dan sesekali menonton video.

Sebagai sarana komunikasi tersebut, mereka butuh konektivitas, banyaknya sosial media yang digunakan tak bisa lepas dari adanya konektivitas sebagai kebutuhan. Generasi z dinilai pertama kali generasi digital, smartphone dan social media tidak lagi dipandang hanya sebagai sebuah aplikasi dan plathform akan tetapi lebih dari itu. Mereka memandang sebagai cara hidup. Memang terdengar berlebihan tetapi banyak studi literature yang menyebutkan demikian.

Pendidikan generasi Z
Guru harus kekinian, guru sebagai ujung tombak pendidikan merupakan lentera perubahan “akan kemanakah generasi ini di bawa”, dengan adanya guru semua kebijakan pendidikan ataupun kurikulum dari pemerintah bisa tersampaikan kepada subyek pendidikan yaitu murid.

Sekarang ini generasi Z sudah memasuki dunia pendidikan awal hingga perguruan tinggi, generasi Z mendominasi semua “produk” pendidikan di sekolah manapun. Oleh karena itu pendidikan dan pembelajaran yang tidak bisa terpisahkan dari tugas berat guru harus bisa tersampaikan kepada generasi Z.

Memadukan teknologi dan pendidikan sudah saatnya dilakukan, jangan sampai generasi Z menilai bahwa pendidikan mengajarkan hal kuno, mengapa demikian? Mereka jauh lebih bisa mengetahui pengetahuan dari internet, bisa dibayangkan ketika guru masih menggunakan metode konvensional sebagai sarana belajar? Membosankan.

Pola pembelajaran kontekstual, pembelajaran kontekstual adalah memadukan teori dengan contoh rill yang nyata dalam kehidupan sehari – hari, guru bisa menggunakan cara tersebut untuk menarik respon siswa terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung.

Kombinasi dengan IT jauh lebih baik, pembelajaran konseptual menuntut guru agar mencari contoh nyata tentu memakan waktu. Dengan kombinasi dengan pola pembelajaran berbasis teknologi tentu sangat memudahkan guru.

Aplikasi pembelajaran, fenomena smartphone bisa dimanfaatkan guru untuk sarana belajar, memang pemanfaatan smartphone masih sangat rentan oleh generasi Z, maka pola pembelajaran menggunakannya akan meminimalisisr efek negatif yang ditimbulkan.

Banyak sekali aplikasi pembelajaran berbasis smartphone yang bisa di gunakan guru, sebut saja google classroom, dengan aplikasi tersebut menghubungkan siswa dengan guru dengan fitur yang sangat mudah digunakan, tidak perlu repot dengan pembuatan aplikasi, dengan google classroom guru bisa menciptakan ruang kelas online secara gratis. Aplikasinya bisa di unduh melalui google play store.

_________________________________
Kenapa harus google classroom? (Karena itu skripsi saya) hehe. jadi mohon do’a restunya semoga cepat selesai. Insya Allah cara penggunaanya akan saya share dalam blog ini.


Salam ^_^
Baca selengkapnya

Jumat, 17 November 2017

Fenomena Remaja Saat ini (Kering Akidah Islam)

Entah disadari atau tidak diluar sana banyak sekali fenomena kaum hedonis yang semakin kekinian semakin amburadul. Definisi gaul saat ini sudah banyak melewati batas wajar. Seperti dalam gurun pasir yang tandus, mereka terus berusaha mencari air, namun itulah yang dinamakan “fatamorgana” air yang mereka minum hanyalah ilusi, sebuah kesia – siaan yang haqiqi. Mereka tidak menyadari hanya berada dalam gurun yang tandus, kering akan akidah islam, jauh dari “air” yang sebenarnya, maka disadari atau tidak jika tidak ada yang menyelamatkan mereka menuju kebenaran, bisa jadi semakin terjerumus ke dalam masa penyesalan.

Zaman boleh berubah, namun akidah tidak bisa ditawar – tawar mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya zaman lah yang harus beradaptasi dengan akidah. Jika kalian menemukan jenis definisi gaul yang sedang trending, coba kembalikan ke akidah terlebih dahulu, jika memang masih bisa di toleransi oke lah “lanjut” kalau memang terbukti tidak sesuai, maka “jangan”. Itulah yang jarang diketahui anak muda jaman sekarang, asal ngikut aja pokoknya “gue gaul” inimah masih sebatas wajar? Tatoan, ngomong anj##g, dsb masih wajar? What!

Tantangan pemuda islam di era globalisasi atau era generasi millennial “zaman now” memanglah sangat berat, berbeda dengan generasi sebelumnya, saat ini pergaulan tidak bisa dengan mudah terdeteksi, komunikasi dengan siapapun bisa menggunakan smartphone, aplikasi canggih yang tidak bisa di ketahui oleh orang tua pun makin marak digunakan sebagai sarana komunikasi.

Fenomena remaja saat ini, merupakan tugas yang berat atas dasar peradaban, bagaimana tidak, pacaran, seks bebas, pakaian yang tak pantas pun semakin dianggap wajar dikarena maraknya fenomena itu terjadi, maka semakin banyak yang melakukan hal tersebut bisa dianggap sebagai hal yang wajar terjadi “namanya anak muda”.

Cepat dewasa sebelum waktunya
Penampilan anak muda jaman sekarang tidak bisa di bedakan dengan orang dewasa, coba kita lihat kebanyakan anak SMA sederajat saat ini, pakaiannya wihh bikin hemm, entah apa maksud mereka, saya pun berfikir buat apa sih gaya penampilan anak muda sekarang itu seperti melampaui orang dewasa, untuk menarik perhatian? Atau sekedar mengikuti gaya hidup?.

Ada yang nanya ke saya, (tapi elu kan juga seneng liatnya?), wajarlah namanya cowok normal :v, tapi lebih banyak nelangsa (ngelus dodo) mau jadi apa sih mereka nanti, seles rokok, atau pekerja esek – esek, jujur saja prihatin :’(.

Fenomena “budak” smartphone
Menjadi seorang yang up to date membutuhkan jaringan informasi yang luas, penggunaan sarana media komunikasi semakin meriah dengan adanya smartphone dengan spek dewa, Indonesia merupakan salah satu pasar mobile terbesar dunia, tak heran semua remaja kekinian pasti memiliki dambaan dalam genggaman tersebut.

Namun bukannya menggunakan dengan bijak dan cerdas, remaja masa kini memiliki perangkat pintar tersebut sebagai gaya hidup mereka, tak heran jika banyak penyalahgunaan sarana komunikasi tersebut seperti menjauhkan yang dekat dan sebaliknya mendekatkan yang jauh. Sekarang mulai banyak poster di halte bus atau tempat umum lain bertuliskan “tidak ada WIFI, ngobrol dengan teman atau samping mu” hal tersebut wajar menyusul keresahan lebih mesra dengan HP nya melupakan arti bersosial sesungguhnya.

Anak muda jaman sekarang “pacaran”
Pacaran adalah sebuah kata yang biasa di dengar para remaja kita, cinta memang hal fitrah kepada lawan jenis, dan cinta adalah suci, namun di saat pengguna mengatasnamakan “cinta” kepada hal yang berhubungan dengan nafsu, maka sudah rancu definisi suci tadi. Pergaulan bebas remaja saat ini memang tidak bisa dianggap enteng begitu saja, baik buruknya mereka tidak lain generasi penerus bangsa.

Memang banyak yang menganggap pacaran itu ada manfaatnya, well lebih tepatnya gerbang menuju maksiat, banyak banget salah pergaulan remaja saat ini bermula dari sebuah cinta, lalu kebablasan, akhirnya jebol deh tanggulnya. Klo sudah gitu siapa yang salah?

Gaul menurut islam
Maka sudah saatnya kita melihat kembali, pergaulan bebas dan kenakalan remaja saat ini sudah dipastikan karena rapuhnya pondasi islam dalam diri mereka, bisa dipastikan akidah islam rapuh dan kering sebagai bingkai kehidupan sosial pemuda saat ini.

Gaul boleh saja, tapi saat definisi gaul itu menjadikan mu bukan lagi sebagai pemuda islam, terus situ mau jadi budak hedonis kekinian yang semakin larut dengan zaman

Tantangan remaja islam zaman now memang bukan lagi dianggap enteng, bahkan rasulullah pernah berpesan bahwa islam datang dengan asing dan di akhir zaman nanti islam akan kembali dianggap asing.


Apakah kita sebagian dari mereka?
Baca selengkapnya

Kamis, 16 November 2017

Pentingnya Literasi Informasi di Era Generasi Millennial




Mengenalkan generasi millennial sekarang tentang literasi informasi melalui berbagai kegiatan sebagai pembelajaran perlu ditekankan. Banyak sekali pengguna teknologi digital di masa sekarang ini kurang memiliki keahlian dalam hal literasi informasi sehingga banyak sekali informasi sampah bertebaran di social media atupun website tertentu.

Banyaknya pengguna sarana informasi di era zaman now ini menyebabkan terciptnya masalah dan potensi, masalah jika bisa ditemukan akarnya bisa menjadikan potensi untuk berkembang, sebaliknya potensi jika tidak dimanfaatkan sebaiknya pun bisa menjadi masalah. Ibarat pedang bermata dua seperti itulah internet yang kita gunakan sekarang ini.

Informasi dari internet memudahkan kita untuk mengetahui berbagai macam memudahkan kebutuhan, namun faktanya generasi milenial lebih banyak menggunakan media informasi hanya sekedar chating di medsos ataupun game online serta melihat video di youtube.

Tidak semua tahu bagaimana menggunakan media informasi secara cerdas dan tepat guna sesuai kebutuhan. Terbukti dengan banyaknya informasi hoax beredar bebas, penpuan melalui saran online dan kejahatan lain.

Apakah kopas tanpa melihat sumber juga kejahatan? Ya itulah salah satu kejahatan informasi, coba bayangkan jika kegiatan “info dari grup sebelah” itu tanpa literasi informasi jika informasi itu tentang seseorang yang difitnah, betapa jahatnya kita menyebarkan fitnah tanpa kita sadari.

Literasi dahulu diartikan hanya sebatas membaca dan menulis, namun saat ini literasi dipandang lebih mencakup secara luas, membaca dan menulis “hanya” di golongkan sebagai “basic literasi”. Dengan perkembangan dunia yang semakin pesat, informasi silih berganti di ujung dunia pun bisa diketahui, maka perlu adanya literasi informasi untuk menyaring kebenaran informasi yang di dapat.

Pengertian literasi informasi menurut para ahli adalah kemampuan untuk mengetahui kapan dibutuhkannya informasi, untuk dapat di jadikan identifikasi, menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Menurut para pakar literasi seperti American Library Association (ALA), literasi informasi didefinisikan sebagai serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif.

Konsep literasi informasi diperlukan untuk memadukan informasi yang relevan dengan pesatnya kemajuan teknologi. Manfaat literasi informasi adalah tersaringnya informasi positif, atau istilahnya dengan literasi informasi kita bisa menangkal hoax dengan metode atau model literasi informasi.

Literasi informasi dapat memberikan hubungan penting antara msayarakat informasi (pengguna sarana informasi) dengan pembelajaran masyarakat. Kegiatan pembelajaran literasi informasi menyebabkan masyarakat dituntut untuk belajar dan belajar ulang. Karena hidup semakin berkembang, bukan berarti kita pasrah dengan keadaan. Kalau masyarakat tidak belajar kompetensi dan fleksibel dengan perkembangan zaman, bukan tidak mungkin jika zaman akan meninggalkannya.

Contoh lterasi informasi dalam kehidupan sehari – hari setidaknya mereka memiliki beberapa hal sebagai berikut:

*Menentukan informasi yang dibutuhkan saja
*bisa mengakses informasi secara efektif dan efisien
*mengolah informasi dari berbagai sumber yang valid
*menggabungkan informasi yang didapatkan sebagai landasan ilmu pengetahuan
*bisa menggunakan informasi secara efektif untuk tujuan tertentu
*mengetahui isu terkini seperti ekonomi dan hukum, dan bisa menggunakan informasi yang didapatkan secara legal

***
Pengetahuan mengenai literasi informasi memang sangat penting, dan kesadaran tentang hal ini perlu di tekankan kepada semua pihak terutama orang tua dan guru di sekolah, agar generasi kekinian “kids zaman now” bisa memilah dan memilih informasi mana yang dibutuhkan.

Jaman memang sudah berubah, namun buka berarti ada kata terlambat disitu pemahaman tentang literasi informasi bisa menghasilkan generasi penerus yang cerdas dalam menyikapi berbagai hoax media.

_____________
Akhir kata, bersama – sama kita ciptakan internet positif dan penggunaan media informasi secara bijak untuk Indonesia berkemajuan


Salam ^-^
Baca selengkapnya

Rabu, 15 November 2017

Cara Mencegah Informasi Hoax Dengan Pendidikan Literasi


Sebagai salah satu pengguna media sosial terbanyak, Indonesia merupakan Negara dengan jumlah pengguna facebook nomor 4 di dunia, belum akun sosial media yang lain. Banyaknya pengguna sosmed mengakibatkan banyak sekali konten tidak benar tersebar dengan mudah. Lalu bagaimana cara mengatasi berita hoax di internet?

Baca selengkapnya

Selasa, 14 November 2017

Membentuk Karakter Islam Pada Anak Sejak Usia Dini


Kebaikan seseorang dimulai dari yang diajarkan orang tuanya kepada anaknya ketika masih belia. Jika agama yang ditekankan, maka peluang anak sukses di masa depan sangatlah terbuka. Tetapi jika selain itu, mungkin akan kaya, tetapi belum tentu baik, apalagi kuat iman dan takwanya. Pentingnya pendidikan karakter anak usia dini sebagai orang tua harus memiliki keyakinan yang kuat, bahwa pendidikan Islam yang paling penting bagi anak ketika dewasa kelak. Maka penting bagi orang tua Mendidik anak berkarakter islami.

Peran Orang Tua di Rumah
Anak yang sholih/sholikhah merupakan harta yang tidak ternilai dan tak bisa disandingkan dengan kekayaan apapun di dunia. Hanya dengan pendidikan agama Islam yang mampu menjadikan anak memiliki kemampuan dibidang spiritual yang baik untuk bekalnya ketika dewasa. Dengan inspirasi tersebut penting bagi orang tua mengerti akan mendidik anaknya karena yang sejatinya paling perlu dikhawatirkan orang tua terhadap masa depan anak sebenarnya bukan soal profesi dan pendapatan. Lebih dari itu adalah iman, ketakwaan dan kemanfaatan anaknya bagi orang lain.

Peran pendidikan keluarga dalam mendidik anaknya dengan mengantarkan anak meraih kedewasaannya dengan mengerti akan ilmu-ilmu Islam baik fikriyah, qolbiyah, jasadiyah maupun dieniyahnya atau Sembilan aspek pendidikan yang dikatakan (Abdussalam, 2011:120) yaitu, imaniyah, ruhiyah, fikriyah, ‘athifiyah, khuluqiyah, irodah, ijtima’iyah, jasadiyah, jinsiyah. Apabila pendidikan keluarga telah mampu mengantarkan anak didiknya mengerti akan ilmu-ilmu Islam, berarti proses pembentukan karakter anak telah terbina dengan baik.

Lingkungan keluarga yang efektif mengantarkan kemudahan bagi orang tua dalam mendidik anaknya. orang tua harus mempersiapkan dengan baik hal-hal yang perlu ditanamkan sejak pendidikan dasar dan ikut serta dalam mempersiapkan generasi terbaiknya, maka hal yang perlu disiapkan dalam lingkungan keluarga untuk mendidik karakter anak dengan baik antara lain:

1.       Ibu rumah tangga sebagai pekerjaan mulia
Pekerjaan wanita sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan terbaik, karena ibu yang akan berhubungan paling dekat dengan anak, dan paling dominan dalam memberikan pendidikan terbaik untuk ikut serta dalam membangun generasi kuat iman dan akhaqnya, seorang ibu dalam Islam dikatakan berasil bukan karir yang tinggi, bahkan melebihi suaminya, namun seorang ibu dikatakan berhasil jika mampu melahirkan insan soleh/sholikah.

Anak adalah cerminan orangtua, orang sukses lahir dari keluarga yang baik, dan ibu memegang peranan yang sangat penting dalam pengajaran ini. Oleh Allah seorang ibu telah ditempatkan pada kemuliaan yang sangat tinggi mengenai pendidikan kepada anaknya, itulah tolak ukur seorang anak ditentukan dari ibunya. Sabda Rasulullah SAW. “….dan seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggung jawaban tentang mereka.” (HR Bukhari Muslim).

2.       Menciptakan budaya Islami dalam keluarga
Era globalisasi saat ini informasi media sangat mempengaruhi perilaku manusia, media masa cetak maupun elektronik dijumpai di setiap sudut rumah. Jika diperhatikan media informasi memberikan dampak negatif yang besar, apabila tidak memiliki dasar Islam yang sebagai pijakan yang kuat. Menurut (Gray, 2006:24) jika anda tidak sadar bahwa ada berbagai metode penipuan, sebaiknya anda bersiap diri menyaring propaganda yang hanya menyajikan sedikit fakta, yang tanpa kita sadari oleh media dengan jangkau siar yang luas.

Siswa SD zaman sekarang di sajikan menu Televisi (TV) yang menuju dalam hal yang negatif, maka wajar jika kasus kenakalan remaja dimulai dari tidak ada dasar pendidikan Islam sejak pendidikan dasar, anak sangat mudah terpengaruh oleh media-media yang merusak moral generasi bangsa. Sebagaimana dikatakan (Nurawani 2013) bahwa bukan tidak mungkin pilar yang sudah kita bangun secara individu bobol oleh derasnya arus perubahan dan kita bisa terhanyut di dalamnya.

Penting bagi keluarga menjaga anaknya dan terus mengawasi ketika di rumah untuk menciptakan suasana dan budaya yang Islami. Buat hubungan antara anak dan orang tua sedekat mungkin untuk menjaga rasa kepercayaan yang tinggi, sebagai contoh untuk sering mengajak diskusi, agar anak selalu peka terhadap fakta. Sebagaimana dikatakan (Nurawani 2013) bahwa membiasakan berdiskusi untuk mengetahui sudut pandang dan cara berfikir anak, serta terbiasa menghukumi kesalahan menurut sudut pandang Islam. Bila ini bisa dilatih sejak dini, Insya Allah anak sudah terbiasa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Membiasakan dengan hal baik akan menciptakan budaya positif untuk memberikan pengaruh kepada anak didik sebagai dasar pembentukan moralnya. Dalam Islam membuat rumah sebagai lingkungan yang baik disebut baitu jannati (rumah-ku adalah syurga-ku) dengan membiasakan hidup Islami sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Sebagai contoh: membudayakan mengkaji Al-Qur’an setelah sholat magrib. Maka kebiasaan untuk mengkaji Al-Qur’an secara tidak sadar membentuk budaya Islami secara istiqomah.

3.       Menjadi teladan yang baik
Keteladanan dalam pendidikan termasuk cara berpengaruh yang paling efektif dalam membentuk kepribadian anak menjadi positif maupun negatif. Jika orang tua seorang yang jujur dan terpercaya, maka anak akan tumbuh di atas kejujuran dan keamanahan. as-Sabatin dalam Abdurrahman (2013:116) mengatakan, kedua orang tua wajib menyifati diri dengan sifat-sifat yang ingin mereka tanamkan di dalam diri anak-anak mereka.

Orang tua juga harus menjaga kaedah-kaedah tingkah laku yang akan ditanamkan pada anaknya. Tidak mungkin kedua orang tua menyuruh untuk sabar  kepada anaknya, sementara orang tua justru gampang marah. Sebagaimana pesan kepada orang tua oleh as-Sabatin dalam Abdurrahman (2013:116) bahwa hal pertama yang harus dimulai sebelum memperbaiki anakmu, adalah perbaikan dirimu sendiri. Sesungguhnya pandanganmu dibatasi oleh kedua matamu.

_____________________________
Konsep pendidikan karakter anak dalam islam perlu ditekankan kepada orang tua agar bisa menerapkan pembentukan karakter islami sejak dini, dengan harapan ketika dewas sudah memiliki pondasi yang kuat agar tidak ikut terbawa arus hedonisme yang kental dengan jiwa remaja kekinian “kering” akidah islam.


Konsep pendidikan karakter islam bisa ditemukan melalui pedoman dalam alqur’an maupun assunah.
Baca selengkapnya

Senin, 13 November 2017

Fenomena Kids Zaman Now Ditanggapi Pemerintah dan Pakar Bahasa


Saat ini kita berada pada zaman yang semakin cepat perkembangan informasi, dengan maraknya fenomena tertentu, lambat laun akan tergantikan tren yang lain. Tak seperti dulu percepatan perubahan tren ini terjadi, kita bisa sedikit kilas balik beberapa waktu lalu sedang tren “om telolet om” lalu tren “challenge” di youtube.

Fonomena satu ini bukan merupakan hal baru, mencampur aduk bahasa menjadi bahasa gaul sebenarnya sudah dari dulu ada, seperti bahasa SMS yang mencampurkan antara huruf dan angka “per4an” “ber5” sudah lebih dulu tren dimasa nya, sekarang zaman berganti, bahasa gaul remaja kekinian pun bertransformasi menjadi bermacam – macam, seperti kids zaman now, tercyduk, gabut, OTW, kuy, sabi,  unch – unch, wkwk land dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimanakah Menurut para ahli mengenai fenomena tersebut?
Fenomena kids zaman now menurut mustakim (kepala pemasyarakatan bahasa pada badan bahasa) yang dikutip kumparan mengatakan “dalam pandangan saya, itu merupakan fenmena mencari perhatian”

mustakim menjelaskan upaya dalam mencari perhatian pun mereka beragam bisa menggunakan cara unik pun tak lazim agar orang lain memperhatikannya. Seperti mencampur adukkan kalimat menggunakan bahasa berbeda, atau menggunakan angka – angka dalam menuliskan pesan.

Sebenarnya hal tersebut tidak mengancam keberadaan bahasa Indonesia yang sudah mapan, karena bahasa merupakan penggunaan pada masa tertentu dan oleh kelompok tertentu. apalagi penggunaanya pun hanya sebatas pergaulan, ketika dia mengerjakan soal pelajaran ataupun laporan dari guru mereka pun bahasa gaul itu ditinggalkan.

Pemerintah zaman now
Setelah mengetahui bahwa penggunaan kata kekinian bukan merupakan ancaman ataupun kemunduran bahasa, tanggapan pemerintah pun tidak banyak mempermasalahkan penggunaan kata campuran tersebut, malah menjadi guyonan di saat – saat tertentu.

Ridwan kamil
Misalkan saja seperti wali kota bandung ridwan kamil, wali kota paling hits se jagat raya tersebut memiliki jutaan pengikut di akun instagramnya, bukan tanpa dasar beliau ingin lebih merasa dekat dengan remaja atau generasi milenial saat ini. Alhasil penggunaan kata gaul pun tak segan beliau tuliskan dalam setiap postingan di instagramnya. Bukan main, banyak komentar – komentar positif berseliweran di akun instagramnya, penyampaian nasehat dan arahan pun dikemas lebih santai dan mudah dipahami. Para nitizen pun berpendapat bahwa ridwan kamil memang salah satu wali kota zaman now yang dimiliki Indnesia,

Kemendikbud
Beda cerita menanggapi fonemona remaja saat ini, entah apa yang ingin di sampaikan kemendikbud dalam sebuah status nya di Twitter, dalam rangka ingin lebih di kenal generasi keknian atau hanya sekedar himbauan saja. Yang jelas berbeda dengan ridwan kamil yang begitu lugas kemendikbud terkesan kaku dalam penyampaiannya jika memang ingin lebih dekat dengan kids jaman now.

Dalam imbauannya di akun resmi kemendikbud (twitter.com/kemendikbud_ri) mengatakan padanan kata yang digunakan dalam kalimat “kids jaman now” yang benar adalah “kids zaman now”. Mungkin kemendikbud ingin menyampaikan kepada nitizen untuk membudayakan menulis ejaan dengan pedoman umum bahasa Indonesia.

Namun bukannya mendapatkan pujian, tak sedikit nitizen yang protes dengan imbauan kemendikbud tersebut.

Kak seto
Banyak yang menilai fenomena penggunaan kata “kids jaman now” ini berasal dari akun kloningan kak seto (seto mulyadi) di kolom komentar youtube trending Indonesia atau kolom komentar di video youtuber terkenal Indonesia, akun kloningan tersebut selalu berkomentar “dasar kids zaman now” ataupun dengan kalimat – kalimat nyleneh lainnya, bahkan sampai ada game developer membuat game kids zaman now dengan tokok utama kak seto dan sukses menyita perhatian di google play store.

Seto mulyadi atau sapaan akrab dengan panggilan kak seto menganggapinya positif, bahkan beliau tidak merasa tersinggung dengan meme yang menggunakan foto dirinya. Dalam keterangannya yang dikutip dari jawapos kak seto hanya tertawa menanggapi fenomena kids zaman now tersebut, bahkan dia mengaku hal tersebut sah – sah saja dilakukan di era digital saat ini, meme tentang beliau pun ditanggapi sebagai bagian dari dinamika remaja bukan melaporkan kepada polisi (seperti tetangga sebelah :v)

_________________________

Akhir kata, mengutip perkataan kak seto, kita hidup di dunia digital kids zaman now, sebanyak apapun remaja saat ini tidak boleh kalah dengan perkembangan zaman.
Baca selengkapnya

Jumat, 10 November 2017

Beasiswa Membuat Malas Karena Berada di Zona Nyaman


Diluar sana, teman tetangga dan kerabat dekat mungkin, selalu mencari info beasiswa. Begitu banyak info yang bisa dicari dengan kata kunci tersebut, sebagai pejuang beasiswa dituntut untuk memenuhi beberapa kriteria, apalagi pejuang beasiswa luar negeri. Banyak hal yang menjadikan prioritas pilihan agar bisa terpenuhi terlebih dahulu.

Namun perlu diingat bahwa beasiswa jangan sampai membuatmu menjadi pemalas.

Dulu waktu saya masih maba pernah bertemu asisten dosen, beliau masih muda dan cantik (makanya inget). Beliau pernah berpesan, “bisa jadi dengan beasiswa mahasiswa sekarang menjadi pemalas” saya pun penasaran, “lho kok bisa seperti itu bu?” mudah saja, ingat perkataan bahwa berada di zona nyaman membuatmu tidak berkarya, miskin kreatifitas? Nah dengan beasiswa, mahasiswa seperti sudah terpenuhi semua kebutuhan finansial, alhasil mereka tidak berkarya, berbeda dengan mereka yang tidak mendapatkan beasiswa, jika dia miskin pasti berkutat mencari pekerjaan dan berjuang keras agar kuliahnya bisa berjalan dengan baik.

Saya sebagai mahasiswa baru tidak bisa menerima begitu saja, karena secara tidak langsung sudah menyindir saya sebagai penerima beasiswa bidik misi. Namun di akhir masa perkuliahan inilah baru merasakan apa yang dikatakan beliau benar adanya, kuliah ya sekedar kuliah tanpa melakukan sesuatu, hanya berpedoman “setidaknya masih memenuhi kriteria penerima beasiswa” yaitu IPK tidak kurang dari 3.00, selain itu? Seperti kuliah tidak memiliki faedah sama sekali.

Tidak bermaksud menyindir siapapun, saya hanya bicara kebanyakan mahasiswa saja, diluar sana masih banyak penerima beasiswa yang tahu diri, contohnya mawapres UNNES seorang penerima bidik misi wisuda diantar bapaknya yang tak lain seorang tukang becak, lalu mahasiswa kedokteran UGM bahkan bisa membuat bapak SBY menangis saat dia naik podium untuk sambutan mewakili penerima beasiswa bidikmisi berprestasi lainnya. Nah itu sebagian kecil, lalu sebagian besarnya kemana?


Berada di zona nyaman
Kuliah adalah kesempatan yang tak bisa terulang kembali, saat – saat akhir perkuliahan adalah saat dimana penyesalan itu tiba. Kebanyakan dari kita berfikir bahwa kuliah yang rajin agar mendapatkan IPK tinggi lalu segera lulus tepat waktu dan mencari pekerjaan yang layak. Semudah itu? Anggapan salah kebanyakan mahasiswa tersebut masih “umum” menjadi mindset mereka.

Alhasil kuliah hanya menjalankan tugas dari dosen saja, padahal ilmu untuk bekerja tidak hanya didapat dari kampus, lebih parahnya lagi mindset tersebut hampir menjadi pemikiran semua mahasiswa, coba bayangkan saja setiap bulan berapa ribu mahasiswa lulus mendapatkan gelar sarjana, bahkan saya dengar kampus UB pernah melakukan acara wisuda satu bulan dua kali, coba bayangkan jika minset itu masih menjadi pemikiran mu, berapa juta orang yang menjadi saingan mendapatkan pekerjaan.

Jadilah pembeda
Pesan ini saya tekankan lebih khusus bagi kalian seorang mahasiswa baru (maba) apalagi jika kalian penerima beasiswa, jangan sampai lengah dengan kemerdekaan finansial mu, bahkan untuk bermewah – mewah seperti beli HP baru notebook baru dsb. Sadarlah kuliah hanya sementara, perjuangan hidup sesungguhnya baru dimulai sejak lulus kuliah.

Dengan pembeda, akan menjadikan dirimu dinilai lebih dari orang lain. Tidak usah terlalu jauh seperi mawapres UGM yang saya contohkan diatas, mulailah dengan hal kecil yang kamu sukai (passion). Misalkan saja suka dengan fotografi cobalah ikut lomba foto, jago nulis ikutlah beberapa acara kepenulisan dan ikut komunitas literasi. Dengan demikian setidaknya mempunyai bekal yang bisa kalian bawa setelah lulus (bukan sekedar ijasah)

____________________

Akhir kata, jadilah penerima beasiswa yang “tahu diri” jangan Cuma sekedar menggugurkan kewajiban, kuliah lebih dari sekedar duduk menerima materi dari dosen, tapi juga beban sebagai agen perubahan. Berhentilah menjadi pecundang, 
Baca selengkapnya