Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 November 2017

Pengertian Fitnah - Khutbah Jum'at Tentang Dajjal Bagian 1



Oleh: Ust. Muhammad Rahma Raziqin, M Pd.
Jabatan : dosen agama Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya
Lokasi kutbah : Masjid Ibnu Sina Jl. Veteran Malang

Assalamu’alaikum wr. Wb.
Seluruh Fitnah yang ada di dunia sekarang ini, tidak ada apa-apanya di banding fitnah dajjal. Bahkan bisa dikatakan seluruh fitnah di dunia ini semuanya adalah fitnah yang muncul untuk menyambut dahsyatnya fitnah dajjal. Sayangnya tema tentang dajjal ini jarang dikupas, dan kalaupun dibahas dan dikupas seringkali dengan pembahasan yang kurang tepat.

Padahal Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadits bahwa dajjal itu muncul justru ketika dia mulai jarang dibicarakan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam ahmad dari sahabat nabi rasulullah SAW bersabda yang artinya “dajjal itu tidak akan keluar sampai orang mulai melupakannya dan sampai para imam panutan – panutan agama sudah mulai meninggalkan pembicaraan di atas mimbar”. Ini perkataan nabi, ketika dajjal sudah jarang di bahas justru itu sangat menghawatirkan karena adalah zaman munculnya.

Logikanya bagaimana? Secara rasional mudah kita pahami, kalau dajjal ini sudah mulai jarang dibicarakan maka orang bisa jadi tidak kenal dajjal, dan kalau orang sudah tidak kenal dajjal maka orang bisa salah persepsi terhadap dajjal. Kalau sudah salah persepsi dengan dajjal, maka dia akan sangat mudah masuk dalam jeratan fitnah dajjal, mudah masuk dalam fitnahnya, akhirnya banyak orang yang ikut dengan dajjal bahkan orang islam.

Maka akan menjadi sangat penting untuk mengangkat tema ini pada mimbar – mimbar jumat agar kaum muslimin mengerti dahsyatnya fitnah dajjal ini kemudian bisa mewaspadainya.

Pertama, kita harus tahu terlebih dahulu apa itu definisi fitnah, apa yang dimaksud dengan fitnah, mengapa disebut dengan fitnah dajjal, fitnah yang dalam bahasa Indonesia adalah menuduh seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataan, itu arti fitnah bahasa Indonesia.

Orang yang tidak mencuri kemudian dituduh mencuri padahal tidak mencuri maka itu dikatakan fitnah karena menuduh seseorang tidak sesuai dengan kenyataan, ini dalam bahasa Indonesia, kalau dalam pengertian syariat “syar’I” istilah fitnah bukan begitu maknanya, fitnah itu maknanya adalah segala sesuatu yang memalingkan seseorang dari jalan Allah. Makanya harta bisa menjadi fitnah , kita mungkin pernah mendengar istilah bahwa harta adalah fitnah, harta bisa berpotensi memalingkan seseorang menjadi terpalingkan dengan jalan Allah.

Jadi orang memiliki harta banyak tergoda untuk berjudi, tergoda untuk berzina tergoda untuk melakukan maksiat, itu fitnah harta. Fitnah wanita misalnya, dikatakan fitnah wanita karena wanita bagi lelaki bisa memalingkan seseorang dari jalan Allah, gara – gara wanita seseorang lelaki bisa terdorong untuk berbuat curang, bisa terdorong untuk berbuat korupsi bisa terdorong untuk berbuat selingkuh, bisa terdorong untuk meninggalkan kewajiban - kewajiban agama.

Oleh karena itu ketika dikatakan fitnah dajjal maksudnya adalah ketika sosok ini muncul, maka makhluk ini akan memalingkan manusia dari jalan Allah, kenapa memalingkan manusia dari jalan Allah? Kita ingat bahwa ketika dajjal ini muncul menurut hadits nabi, pertama dia mengaku sebagai orang sholeh, tampil sebagai orang baik, seolah – olah membela islam, lalu dia pengikutnya banyak, ketika pengikutnya sudah banyak maka dia akan mengaku sebagai nabi, dan saat dia mengaku sebagai nabi maka pengikutnya masih banyak tapi orang islam yang memiliki iman kuat mulai goncang, (kok ngaku sebagai nabi, kalau dia orang bener ga mungkin ngaku seorang nabi) ada yang keluar dari pengikut dajjal ada yang masih tetap menjadi pengikut dajjal. Tapi pengaruh dajjal akan menjadi sangat luas nantinya dan akhirnya nanti dia akan mengaku sebagai tuhan, ketika dia mengaku sebagai tuhan maka otomatis pengikutnya akan mempertuhankan dajjal. Dan kalau sudah demikian maka siapapun yang mengikutinya maka dia kafir.

Bahkan baru percaya bahwa dajjal mengaku sebagai nabi saja sudah kafir karena jika orang mengakui bahwa utusan Allah (terakhir) selain nabi Muhammad SAW maka dia kafir, karena rasulullah itu nabi terakhir, maka jika ada yang mengakui utusan terakhir selain rasulullah maka dia keluar dari Islam, itulah yang dinamakan fitnah, orang yahudi itu di akui sebagai kafir karena tidak mau mengakui bahwa nabi Muhammad itu utusan Allah, mereka juga percaya pada nabi musa, punya kitab suci bernama taurat bahkan percaya surga dan neraka, namun satu kesalahan dari orang yahudi itu tidak mau mengakui Muhammad SAW sebagai utusan Allah dan mengikutinya, kafir.

Maka dajjal itu muncul dan mengaku sebagai nabi dan jika orang islam percaya otomatis dia keluar dari islam, itulah yang dinamakan fitnah, apalagi kalau dia mengaku sebagai tuhan kemudian diikuti, jelas kekafirannya, siapa yang mempertuhan kan selain Allah maka dia kafir

maka kemudian rasulullah memberi peringatan, memberi tanda agar orang islam itu bisa mendeteksi adanya dajjal dengan tanda fisik yang sangat sederhana, perhatikan dia bahwa dajjal itu buta sebelah, dan TUHAN mu tidak buta sebelah. Ini cara mendeteksi dajjal paling mudah bagi orang awam. Kalau ada yang mengaku sebagai tuhan dan memiliki kemampuan ajaib yang macem – macem tapi buta sebelah maka dia pasti dajjal yang dimaksud nabi, sehingga orang islam bisa menghindarinya jangan sampai menjadi pengikut dajjal, itulah makna fitnah dalam syariat islam.

Hari ini umat islam harus mulai banyak diajak untuk mewaspadai fitnah dajjal ini karena masih banyak yang salah paham sebagai fitnah, salah pahamnya banyak sehingga dihawatirkan ketika dajjal itu benar – benar muncul sebagai fitnah, mereka tidak bisa mengetahui bahwa dajjal ini adalah fitnah yang dimaksud nabi atau tidak.

Tunggu kelanjutannya.... Pengertian dajjal - Khutbah Jum'at Tentang Dajjal Bagian 2

Wallahu alam bishawab
Baca selengkapnya

Jumat, 17 November 2017

Fenomena Remaja Saat ini (Kering Akidah Islam)

Entah disadari atau tidak diluar sana banyak sekali fenomena kaum hedonis yang semakin kekinian semakin amburadul. Definisi gaul saat ini sudah banyak melewati batas wajar. Seperti dalam gurun pasir yang tandus, mereka terus berusaha mencari air, namun itulah yang dinamakan “fatamorgana” air yang mereka minum hanyalah ilusi, sebuah kesia – siaan yang haqiqi. Mereka tidak menyadari hanya berada dalam gurun yang tandus, kering akan akidah islam, jauh dari “air” yang sebenarnya, maka disadari atau tidak jika tidak ada yang menyelamatkan mereka menuju kebenaran, bisa jadi semakin terjerumus ke dalam masa penyesalan.

Zaman boleh berubah, namun akidah tidak bisa ditawar – tawar mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya zaman lah yang harus beradaptasi dengan akidah. Jika kalian menemukan jenis definisi gaul yang sedang trending, coba kembalikan ke akidah terlebih dahulu, jika memang masih bisa di toleransi oke lah “lanjut” kalau memang terbukti tidak sesuai, maka “jangan”. Itulah yang jarang diketahui anak muda jaman sekarang, asal ngikut aja pokoknya “gue gaul” inimah masih sebatas wajar? Tatoan, ngomong anj##g, dsb masih wajar? What!

Tantangan pemuda islam di era globalisasi atau era generasi millennial “zaman now” memanglah sangat berat, berbeda dengan generasi sebelumnya, saat ini pergaulan tidak bisa dengan mudah terdeteksi, komunikasi dengan siapapun bisa menggunakan smartphone, aplikasi canggih yang tidak bisa di ketahui oleh orang tua pun makin marak digunakan sebagai sarana komunikasi.

Fenomena remaja saat ini, merupakan tugas yang berat atas dasar peradaban, bagaimana tidak, pacaran, seks bebas, pakaian yang tak pantas pun semakin dianggap wajar dikarena maraknya fenomena itu terjadi, maka semakin banyak yang melakukan hal tersebut bisa dianggap sebagai hal yang wajar terjadi “namanya anak muda”.

Cepat dewasa sebelum waktunya
Penampilan anak muda jaman sekarang tidak bisa di bedakan dengan orang dewasa, coba kita lihat kebanyakan anak SMA sederajat saat ini, pakaiannya wihh bikin hemm, entah apa maksud mereka, saya pun berfikir buat apa sih gaya penampilan anak muda sekarang itu seperti melampaui orang dewasa, untuk menarik perhatian? Atau sekedar mengikuti gaya hidup?.

Ada yang nanya ke saya, (tapi elu kan juga seneng liatnya?), wajarlah namanya cowok normal :v, tapi lebih banyak nelangsa (ngelus dodo) mau jadi apa sih mereka nanti, seles rokok, atau pekerja esek – esek, jujur saja prihatin :’(.

Fenomena “budak” smartphone
Menjadi seorang yang up to date membutuhkan jaringan informasi yang luas, penggunaan sarana media komunikasi semakin meriah dengan adanya smartphone dengan spek dewa, Indonesia merupakan salah satu pasar mobile terbesar dunia, tak heran semua remaja kekinian pasti memiliki dambaan dalam genggaman tersebut.

Namun bukannya menggunakan dengan bijak dan cerdas, remaja masa kini memiliki perangkat pintar tersebut sebagai gaya hidup mereka, tak heran jika banyak penyalahgunaan sarana komunikasi tersebut seperti menjauhkan yang dekat dan sebaliknya mendekatkan yang jauh. Sekarang mulai banyak poster di halte bus atau tempat umum lain bertuliskan “tidak ada WIFI, ngobrol dengan teman atau samping mu” hal tersebut wajar menyusul keresahan lebih mesra dengan HP nya melupakan arti bersosial sesungguhnya.

Anak muda jaman sekarang “pacaran”
Pacaran adalah sebuah kata yang biasa di dengar para remaja kita, cinta memang hal fitrah kepada lawan jenis, dan cinta adalah suci, namun di saat pengguna mengatasnamakan “cinta” kepada hal yang berhubungan dengan nafsu, maka sudah rancu definisi suci tadi. Pergaulan bebas remaja saat ini memang tidak bisa dianggap enteng begitu saja, baik buruknya mereka tidak lain generasi penerus bangsa.

Memang banyak yang menganggap pacaran itu ada manfaatnya, well lebih tepatnya gerbang menuju maksiat, banyak banget salah pergaulan remaja saat ini bermula dari sebuah cinta, lalu kebablasan, akhirnya jebol deh tanggulnya. Klo sudah gitu siapa yang salah?

Gaul menurut islam
Maka sudah saatnya kita melihat kembali, pergaulan bebas dan kenakalan remaja saat ini sudah dipastikan karena rapuhnya pondasi islam dalam diri mereka, bisa dipastikan akidah islam rapuh dan kering sebagai bingkai kehidupan sosial pemuda saat ini.

Gaul boleh saja, tapi saat definisi gaul itu menjadikan mu bukan lagi sebagai pemuda islam, terus situ mau jadi budak hedonis kekinian yang semakin larut dengan zaman

Tantangan remaja islam zaman now memang bukan lagi dianggap enteng, bahkan rasulullah pernah berpesan bahwa islam datang dengan asing dan di akhir zaman nanti islam akan kembali dianggap asing.


Apakah kita sebagian dari mereka?
Baca selengkapnya

Selasa, 14 November 2017

Membentuk Karakter Islam Pada Anak Sejak Usia Dini


Kebaikan seseorang dimulai dari yang diajarkan orang tuanya kepada anaknya ketika masih belia. Jika agama yang ditekankan, maka peluang anak sukses di masa depan sangatlah terbuka. Tetapi jika selain itu, mungkin akan kaya, tetapi belum tentu baik, apalagi kuat iman dan takwanya. Pentingnya pendidikan karakter anak usia dini sebagai orang tua harus memiliki keyakinan yang kuat, bahwa pendidikan Islam yang paling penting bagi anak ketika dewasa kelak. Maka penting bagi orang tua Mendidik anak berkarakter islami.

Peran Orang Tua di Rumah
Anak yang sholih/sholikhah merupakan harta yang tidak ternilai dan tak bisa disandingkan dengan kekayaan apapun di dunia. Hanya dengan pendidikan agama Islam yang mampu menjadikan anak memiliki kemampuan dibidang spiritual yang baik untuk bekalnya ketika dewasa. Dengan inspirasi tersebut penting bagi orang tua mengerti akan mendidik anaknya karena yang sejatinya paling perlu dikhawatirkan orang tua terhadap masa depan anak sebenarnya bukan soal profesi dan pendapatan. Lebih dari itu adalah iman, ketakwaan dan kemanfaatan anaknya bagi orang lain.

Peran pendidikan keluarga dalam mendidik anaknya dengan mengantarkan anak meraih kedewasaannya dengan mengerti akan ilmu-ilmu Islam baik fikriyah, qolbiyah, jasadiyah maupun dieniyahnya atau Sembilan aspek pendidikan yang dikatakan (Abdussalam, 2011:120) yaitu, imaniyah, ruhiyah, fikriyah, ‘athifiyah, khuluqiyah, irodah, ijtima’iyah, jasadiyah, jinsiyah. Apabila pendidikan keluarga telah mampu mengantarkan anak didiknya mengerti akan ilmu-ilmu Islam, berarti proses pembentukan karakter anak telah terbina dengan baik.

Lingkungan keluarga yang efektif mengantarkan kemudahan bagi orang tua dalam mendidik anaknya. orang tua harus mempersiapkan dengan baik hal-hal yang perlu ditanamkan sejak pendidikan dasar dan ikut serta dalam mempersiapkan generasi terbaiknya, maka hal yang perlu disiapkan dalam lingkungan keluarga untuk mendidik karakter anak dengan baik antara lain:

1.       Ibu rumah tangga sebagai pekerjaan mulia
Pekerjaan wanita sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan terbaik, karena ibu yang akan berhubungan paling dekat dengan anak, dan paling dominan dalam memberikan pendidikan terbaik untuk ikut serta dalam membangun generasi kuat iman dan akhaqnya, seorang ibu dalam Islam dikatakan berasil bukan karir yang tinggi, bahkan melebihi suaminya, namun seorang ibu dikatakan berhasil jika mampu melahirkan insan soleh/sholikah.

Anak adalah cerminan orangtua, orang sukses lahir dari keluarga yang baik, dan ibu memegang peranan yang sangat penting dalam pengajaran ini. Oleh Allah seorang ibu telah ditempatkan pada kemuliaan yang sangat tinggi mengenai pendidikan kepada anaknya, itulah tolak ukur seorang anak ditentukan dari ibunya. Sabda Rasulullah SAW. “….dan seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggung jawaban tentang mereka.” (HR Bukhari Muslim).

2.       Menciptakan budaya Islami dalam keluarga
Era globalisasi saat ini informasi media sangat mempengaruhi perilaku manusia, media masa cetak maupun elektronik dijumpai di setiap sudut rumah. Jika diperhatikan media informasi memberikan dampak negatif yang besar, apabila tidak memiliki dasar Islam yang sebagai pijakan yang kuat. Menurut (Gray, 2006:24) jika anda tidak sadar bahwa ada berbagai metode penipuan, sebaiknya anda bersiap diri menyaring propaganda yang hanya menyajikan sedikit fakta, yang tanpa kita sadari oleh media dengan jangkau siar yang luas.

Siswa SD zaman sekarang di sajikan menu Televisi (TV) yang menuju dalam hal yang negatif, maka wajar jika kasus kenakalan remaja dimulai dari tidak ada dasar pendidikan Islam sejak pendidikan dasar, anak sangat mudah terpengaruh oleh media-media yang merusak moral generasi bangsa. Sebagaimana dikatakan (Nurawani 2013) bahwa bukan tidak mungkin pilar yang sudah kita bangun secara individu bobol oleh derasnya arus perubahan dan kita bisa terhanyut di dalamnya.

Penting bagi keluarga menjaga anaknya dan terus mengawasi ketika di rumah untuk menciptakan suasana dan budaya yang Islami. Buat hubungan antara anak dan orang tua sedekat mungkin untuk menjaga rasa kepercayaan yang tinggi, sebagai contoh untuk sering mengajak diskusi, agar anak selalu peka terhadap fakta. Sebagaimana dikatakan (Nurawani 2013) bahwa membiasakan berdiskusi untuk mengetahui sudut pandang dan cara berfikir anak, serta terbiasa menghukumi kesalahan menurut sudut pandang Islam. Bila ini bisa dilatih sejak dini, Insya Allah anak sudah terbiasa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Membiasakan dengan hal baik akan menciptakan budaya positif untuk memberikan pengaruh kepada anak didik sebagai dasar pembentukan moralnya. Dalam Islam membuat rumah sebagai lingkungan yang baik disebut baitu jannati (rumah-ku adalah syurga-ku) dengan membiasakan hidup Islami sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Sebagai contoh: membudayakan mengkaji Al-Qur’an setelah sholat magrib. Maka kebiasaan untuk mengkaji Al-Qur’an secara tidak sadar membentuk budaya Islami secara istiqomah.

3.       Menjadi teladan yang baik
Keteladanan dalam pendidikan termasuk cara berpengaruh yang paling efektif dalam membentuk kepribadian anak menjadi positif maupun negatif. Jika orang tua seorang yang jujur dan terpercaya, maka anak akan tumbuh di atas kejujuran dan keamanahan. as-Sabatin dalam Abdurrahman (2013:116) mengatakan, kedua orang tua wajib menyifati diri dengan sifat-sifat yang ingin mereka tanamkan di dalam diri anak-anak mereka.

Orang tua juga harus menjaga kaedah-kaedah tingkah laku yang akan ditanamkan pada anaknya. Tidak mungkin kedua orang tua menyuruh untuk sabar  kepada anaknya, sementara orang tua justru gampang marah. Sebagaimana pesan kepada orang tua oleh as-Sabatin dalam Abdurrahman (2013:116) bahwa hal pertama yang harus dimulai sebelum memperbaiki anakmu, adalah perbaikan dirimu sendiri. Sesungguhnya pandanganmu dibatasi oleh kedua matamu.

_____________________________
Konsep pendidikan karakter anak dalam islam perlu ditekankan kepada orang tua agar bisa menerapkan pembentukan karakter islami sejak dini, dengan harapan ketika dewas sudah memiliki pondasi yang kuat agar tidak ikut terbawa arus hedonisme yang kental dengan jiwa remaja kekinian “kering” akidah islam.


Konsep pendidikan karakter islam bisa ditemukan melalui pedoman dalam alqur’an maupun assunah.
Baca selengkapnya

Kamis, 09 November 2017

Kajian Pendidikan Islam – Bijak Menghadapi Kids Zaman Now


*Artikel ini merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya yaitu Kids Zaman Now Dalam Pandangan Islam (peran orang tua mendidik)

Sebagai lanjutan pembahasan dari artikel sebelumnya mengenai fenomena yang tengah popular dikalangan masyarakat, dalam artikel sebelumnya (jika belum silahkan dibaca dahulu) telah dibahas tentang ciri – ciri anak kekinian dan sedikit diulas peran orang tua lah yang bertanggung jawab menangkal perangai buruk buah hatinya.

Karena memang kita (orang tua/guru disekolah) hidup di zaman yang berbeda dengan anak mereka yaitu masa mutakhir saat ini. Maka tidak bisa kita mendidik buah hati dengan metode atau cara – cara kita dahulu dibesarkan, didiklah buah hati sesuai dengan masanya. Namun juga tidak serta merta melupakan masa lalu, yaitu belajar hidup untuk masa depan.

Permasalahan yang timbul ibarat sungai keruh yang jauh dari sumbernya, maka orang tua sebagai sumber kehidupan anak, segeralah merapatkan kasih sayang dan perhatian agar air yang keruh tersebut perlahan bisa jernih dan bisa mengalir bermanfaat bagi masyarakat dan Negara.

Maka menanamkan jiwa karakter merupakan bekal awal yang bisa dilakukan oleh orang tua dan guru,

Menjadi hal yang menarik ketika melihat buah hati/ siswa kita di sekolah sangat bersemangat untuk menuntut ilmu, baik tutur katanya, memiliki jiwa sosial, sungguh elok dipandang mata. Semua orang tua mendambakan buah hatinya menjadi insan yang berguna, maka sangat penting menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini, dengan pendidikan Islam anak menjadi mengerti akan pentingnya mengatur dirinya untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana dikatakan (Winarno, 2014:141) pendidikan telah dipahami memiliki dua tujuan besar, yaitu: membantu siswa menjadi pandai dan membantu siswa menjadi baik. Dapat dipahami pintar saja bukan acuan menjadi pribadi yang diinginkan, namun juga perlunya menjadi siswa yang baik, agar terwujudnya tujuan dalam pendidikan.

Ada tiga pilar utama dalam pendidikan Islam sebagai langkah awal dalam menanamkan moral dan karakter yang baik pada siswa. Sebagaimana dikatakan seorang guru yang menjadi pendidik salah satu sekolah Islam di Sleman Yogyakarta. Beliau mengatakan, untuk memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita, setidaknya ada tiga pilar pendidikan utama yang harus kita ajarkan kepada mereka, yaitu pendidikan tauhid, pendidikan akhlak, dan pendidikan ibadah.

1.       Pendidikan Tauhid
Pendidikan tauhid atau ma’rifatullah perlu diajarkan pada siswa, karena menyangkut tujuan dalam hidupnya, dengan mengenalkan siswa pada sang Pencipta dan seluruh alam beserta isinya, mereka akan mengerti kemana dia akan melangkah selalu diawasi oleh Allah, sehingga tertanam dengan kuat keimanan dalam hati mereka. Dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Siswa tidak serta merta memahami secara utuh maksud dari pendidikan tauhid, namun dengan memperkenalkan Allah melalui ayat-ayat atau pertandanya akan mempermudah siswa dalam memahami dan mengenal penciptanya. Memahami pertanda Allah dengan dua cara, yaitu: dengan memahami pertandanya yang bersifat qauliyah dan qauniah. Allah telah berfirman: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (QS. Ali’imran: 190).

2.       Pendidikan Akhlak
Akhlak merupakan sifat yang harus dimiliki setiap insan, sehingga dalam tingkah laku keseharian mencerminkan seorang yang beradab, baik dengan diri sendiri maupun dengan lingkungan. Pendidikan akhlak sangat penting dalam kehidupan manusia, karenanya Rasulullah SAW. bersabda “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik”. (HR. Abu Dawud).

Menanamkan akhlak yang baik pada siswa tidak mudah, karena pendidikan akhlak dimulai dari adab yang dibawa siswa dari lingkungan keluarga, sehingga orang tua yang paling berpengaruh dalam pembentukan adab. Namun peran guru dalam sekolah pun juga sangat mempengaruhi, sehingga seorang guru yang efektif adalah memiliki adab yang baik, dan bisa dikatakan ambilah adabnya sebelum mengambil ilmunya.

3.       Pendidikan Ibadah
Tahap ketiga adalah pendidikan ibadah, setelah mengenal sang Pencipta dan penanaman akhlak, tahap selanjutnya yaitu memahamkan setiap ciptaan pasti memiliki tujuan, sebagaimana handphone diciptakan manusia untuk alat berkomunikasi, dan setiap ciptaan pastilah memiliki buku petunjuk, dengan landasan tersebut siswa akan berfikir tentang kewajibannya sebagai makhluk ciptaan Allah dan tiada lain tugas setiap insan di dunia ini adalah untuk beribadah pada Allah SWT. Dan buku petunjuknya ialah Al-Qur’an. Allah SWT. berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS:Adz-Dzariyat: 56).

Pendidikan ibadah mengarahkan siswa untuk memahami peranan kehidupannya. Hendaknya siswa dituntun untuk beribadah sesuai syari’at Islam, yaitu dengan menjadikan Rasulullah sebagai panduan dalam beribadah mulai dari tata cara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya. Rasulullah SAW. bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari). Dengan melatihnya dan membiasakan sejak sekolah dasar, Insya Allah ketika dewasa nanti siswa memiliki kebiasaan untuk beribadah.

_____________________

Dapat dipahami bahwa menanamkan jiwa karakter melalui pendidikan islam dalam lingkup keluarga maupun sekolah, secara tidak langsung bisa menjadi benteng pertahanan buah hati dalam menghadapi zaman yang penuh dengan retorika kedepannya nanti.
Baca selengkapnya

Jumat, 03 November 2017

Ruang Lingkup Pendidikan Islam Sebagai Dasar Pembetukan Karakter Siswa SD


Pendidikan Islam sebagai ilmu, mempunyai ruang lingkup yang luas. Karena di dalamnya banyak aspek yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung yang mempengaruhi tumbuh kembang peserta didik dan perkembangan karakter sangat dipengaruhi oleh ruang lingkup pendidikan. Sebagaimana dikatakan Nur Uhbiyati (1997:16), adapun ruang lingkup pendidikan Islam adalah:

1.      Perbuatan mendidik
Perbuatan mendidik hal ini dimasudkan yaitu seluruh kegiatan yang berkaitan atau dilakukan oleh pendidik kepada anak didiknya, dan erat kaitannya dengan pembinaan yang memberikan pertolongan atau arahan menuju tujuan pendidikan Islam. Perbuatan pendidikan adalah hasil nyata dari tindakan pendidikan yang membawa siswa ke dalam sistem pembelajaran.

2.      Anak didik
Anak didik adalah obyek yang paling penting dalam pendidikan, karena yang terlibat langsung atau selaku aktor utama dalam proses pendidikan. Usaha apapun dari seorang pendidik hanyalah ingin menjadikan anak didiknya kepada tujuan pendidikan Islam yang diinginkan dan di cita-citakan. Anak didik sebagai pencari ilmu (tolabul ’ilmi) merupakan keutamaan, dalam Islam menuntut ilmu adalah sebuah keharusan.

3.      Dasar dan tujuan pendidikan Islam
Dasar dari pendidikan Islam yaitu sumber dari segala kegiatan pendidikan yang mengarahkan akan kemana anak didik akan dibawa. Berdasarkan asas atau landasan pendidikan Islami yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, tergambar dengan jelas arah dan tujuan pendidikan Islami yakni membangun insan berada dalam tatanan yang diridhai Allah dengan menjadikan Rasulullah sebagai teladan, sehingga mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an menyuruh pada hambanya untuk senantiasa berdo’a: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka”. (QS. Al-Baqarah: 201).

4.      Pendidik
Pendidik adalah subyek yang mengemban amanah melaksanakan pendidikan Islam. Baik maupun buruk seoarang pendidik akan berpengaruh besar terhadap hasil pendidikan Islam. Sebagaimana dikatakan (Winarno, 2014:148) pendidik berperan penting dalam dunia pendidikan, bahkan seringkali pendidikan yang lain menjadi kurang berarti apabila tidak disertai dengan kualitas pendidik yang memadai.

5.      Materi pendidikan Islam
Materi adalah bahan atau pengalaman-pengalaman ilmu agama Islam yang disusun untuk disajikan kepada siswa sebagai bekal menjalani hidup. Isi yang diajarkan pada siswa diharapkan untuk merubah sikap-sikap yang sesuai dengan norma agama dan menambah pengetahuan yang sesuai dengan pembelajaran yang direncanakan. Seperti yang dikatakan (abdussalam, 2011:59) bahwa pendidikan Islami memberikan layanan pendidikan secara utuh, menyeluruh dan seimbang pada seluruh aspek pertumbuhan dan perkembangan manusia dan masyarakat.

6.      Metode pendidikan Islam
Metode adalah cara yang digunakan guru untuk menyampaika materi pendidikan Islam yang telah disusun, agar mudah dipahami oleh siswa guru harus pandai-pandai memiliki berbagai metode pembelajaran, sehingga tidak monoton dalam penyampaian materi dan ada kesan tersendiri dari siswa untuk senantiasa mendengarkan materi yang disampaikan. Ada banyak metode yang telah diterapkan salah satunya metode ceramah yang paling umum digunakan.

7.      Evaluasi pendidikan
Evaluasi pendidikan yaitu memuat cara-cara yang digunakan untuk menilai hasil pembelajaran Islam agar tujuan pendidikan Islam tercapai. Dengan evaluasi pendidikan yang telah dilaksnakan dapat diketahui, dan sebagai penilaian untuk perbuatan yang dilakukan untuk kedepannya, jika berjalan baik akan terus dilakukan tetapi jika tidak berjalan dengan baik, maka perlu ada tindakan yang dilakukan untuk merubah metode maupun kurikulum agar tujuan dari pendidikan Islam tercapai.

8.      Alat pendidikan
Alat pendidikan Islam diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk menghasilkan proses pendidikan. Alat pendidikan digunakan dalam rangka meningkatkan interaksi edukatif antara guru dan siswa guna mempermudah dalam penyampaian materi oleh guru. Alat pendidikan bisa merujuk pada benda-benda maupun perbuatan yang mendukung agar proses pendidikan berjalan dengan baik dan sesuai tujuan dari pendidikan Islam.

9.      Lingkungan pendidikan

Lingkungan pendidikan Islam adalah keadaan-keadaan yang ikut berpengaruh dalam pelaksanaan serta hasil pendidikan Islam. Lingkungan pendidikan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian siswa, sehingga hendaklah diupayakan agar lingkungan belajar senantiasa tercipta sehingga mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Ada tiga lingkungan yang berpengaruh pada siswa dalam pembentukan karakter maupun dalam bidang akademik, menurut Winarno (2014:97) lingkungan pendidikan terjadi dalam keluarga (informal), dalam masyarakat (non formal) dan dan sekolah (formal).
Baca selengkapnya

Kamis, 02 November 2017

Kids Zaman Now Dalam Pandangan Islam (peran orang tua mendidik)


Problematika public tengah merasakan riuhnya pembahasan mengenai anak muda zaman sekarang, atau istilahnya “kids zaman now” semua media sosial seperti menertawakan suramnya masa depan mereka, tak segan pula mengutarakan kebencian dengan  mengutarakan kata “generasi micin” misalnya.

Apakah kta lupa bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa, cikal bakal mereka menjadi sekarang juga tidak semata-mata murni karena tingkah mereka sendiri. Banyak hal yang mempengaruhi kepribadian mereka. Perlu diingat pula bahwa “bobroknya” karakter mereka bisa jadi karena kurangnya perhatian “kids zaman old” atau generasi pencetak sekarang. Sudahkah anda sebagai generasi lama, mengantarkan perhatian kepada generasi masa kini?

Banyak orang ramai-ramai mengunggah foto atau pun video mirisnya “generasi micin” saat ini. Berikut saya jabarkan beberapa ciri-cirinya berdasarkan beberapa sumber:
1.       Nongkrong di kafe instagramable. Check in tiap nongkrong
2.       Bahasa kekinian, anjay, mantab soul, unch unch, leh uga
3.       Smartphone 4G tapi cari wifi gratisan
4.       Mau tidur, makan, kamar mandi, belanja selalu bawa HP
5.       Kemana-mana cari wifi dan colokan listrik
6.       Lebih update gosip via instagram dan youtube dari pada TV nasional (youtube, youtube lebih dari TV #booom)
7.       Suka foto selfie pake tongsis, lalu di edit pake aplikasi kamera jahat terus di posting di instagram dengan tagar berjibun
8.       Seragam dikecilin ngepas badan
9.       Fenomena jilboob dengan pakaian ketat
10.   Yang dewasa masih jomblo anak kecil udah panggil “ayah” “bunda”
11.   Ikut ikutan bikin foto kekinian “ini foto ayah masih muda” “dear mantan maafan aku yang dulu”
12.   Bikin vlog review vape, pamer foto nangis ditinggal pacar, pamer foto dugem, bikin akun kloningan kak seto lalu komen “dasar kids zaman now”
13.   Ikutan video challenge di sosmed “baby shark” “turun naik” “skip challenge” dll.
14.   Bikin akun youtube lalu posting video memperhatinkan
15.   Akses menuju situs porno tanpa hambatan

Dan seperinya dengan bertumbuhnya umur nantinya akan menambah daftar ciri-ciri nyleneh zaman kekinian.

Saya tekankan kembali disini, mereka hanya korban teknologi yang sedang berkembang. Atau istilahnya generasi Z, berbeda dengan zaman dulu yang kesannya ndeso dan katrok bagi remaja masa kini. Maka penekanan “pendidikan” perlu adanya transformasi dan inovasi untuk menangkal budaya hedonis yang melingkupi segala aspek kehidupan mereka. Maka peran siapakah itu? Jika bukan kita para “generasi zaman old” lalu siapa lagi

Kemana orang tua?
Fenomena menggemparkan public jagat maya tersebut sebenarnya perlu dipertanyakan si orang tuanya kemana, apakah mereka tidak bisa mendidik dengan baik atupun setidaknya mengetahui anaknya mempunyai perilaku hedonis yang membahayakan. Apakah para orang tua masa kini tidak menyadari ataukah malah bangga anaknya menjadi selebgram, youtuber dan budak-budak teknologi.

Anak adalah anugrah sekaligus amanah yang diberikan Allah SWT kepada setiap urang tua. Anak yang dilahirkan ibarat lembaran kosong, putih, bersih, dan fitrah, maka orang tuanyalah yang berperan menulis apakah dalam lembaran kosong tersebut, bekal yang dibawa semasa kecil akan berdampak besar pada karakter seseorang ketika menginjak usia dewasa.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa sedikitnya ada dua hal yang mempengaruhi kepribadian anak ketika menginjak usia dewasa yaitu, orang tua yang melahirkannya serta lingkungan yang membesarkannya.

“setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi” – HR. Muslim

Maka sudah jelas sekali bahwa peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan anak. Maka perlu dipertanyakan

·         Kenapa masih kecil sudah di beri mainan smartphone?
·         Sudahkah kita orang tua melihat isi HP anak kita, melihat story browsernya, atau melihat isi social medianya?
·         Sudahkah kita mengajarkan pendidikan karakter bagi anak sejak dini?
·         Sudahkah memberi contoh kepada anak untuk menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup?
·         Sudahkah kita memberi kasih sayang kepada anak sehingga dia tidak mencari kasih sayang dari orang lain?
·         Dan lain sebagainya.

_____________________________________
InsyaAllah akan berlanjut pada pembahasan yang akan datang

Wallahu alam bishawab
Baca selengkapnya

Kamis, 19 Oktober 2017

Memanggil Kembali Fitrah Manusia, Menyibak Nurani yang Berkabut


Semua manusia diciptakan dalam keadaan bersih,

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", ------ QS. Al-A’raf : 172
Baca selengkapnya

Sabtu, 14 Oktober 2017

Menabung tidak Dianjurkan dalam Islam, Namun Dianjurkan Oleh Bank


Sejak kecil kita dianjurkan menabung, pada saat sekolah dasar guru kita selalu mengatakan “rajin menabung pangkal kaya” dan slogan tersebut masuk soal ulangan. Entah saya lupa kelas berapa, namun masih teringat jelas mengenai pelajaran tersebut.

Apakah benar, rajin menabung pangkal kaya? Dalam pelajaran ekonomi kita mengenal inflasi, merupakan kenaikan harga-harga kebutuhan secara serempak. Dengan adanya inflasi, jika saat ini kita bisa membeli cilok seharga Rp500,- belum tentu tahun depan dengan Rp500,- akan mendapatkan barang yang sama, nilai mata uang akan terus tergerus nilainya secara gradual. Berapa patokan normal inflasi? Sekitar 7% pertahun. Jadi kalian memiliki uang yang sama, maka tahun depan sudah kehilangan 7% dari nilai mata uang saat ini.

Terlepas dari konspirasi keuangan (seperti postingan saya sebelumnya) secara umum, ketika kita menabung, uang kita akan berhenti, ada pepatah yang mengatakan bahwa uang seperti air, kalau mengalir jernih jika diam menjadi sarang penyakit. Sehingga menabung terkesan seperti menumpuk harta? Na’udhubilah

Lalu apakah slogan menabung pangkal kaya sangat bertentangan dengan konsep kehidupan manusia?, atau slogan tetangganya “hemat pangkal kaya” juga menuai beragam polemik. Menurut penulis hemat itu dianjurkan dalam islam,

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
(QS Al-Furqan: 67)

Mungkin hal ini sepele, namun jika diperhatikan kedua slogan tersebut memiliki perbedaan cukup signifikan. Terlepas dari kedua slogan tersebut saya akan membahas tentang menabung dalam islam, apakah dianjurkan?

Setelah kita mengetahui bahwa nilai mata uang akan terus menurun menabung menjadi hal yang sangat tidak produktif, selain itu fungsi uang adalah untuk dihabiskan (di belanjakan) jika kalian simpan berarti kalian menyalahi arti sesungguhnya kegunaan uang tersebut.

Dalam islam istilah “rajin menabung pangkal kaya” sangat tidak dibenarkan, setelah menerima materi tentang ekonomi syariah yang di sampaikan ust. Anas budiharjo (seorang dosen ekonomi syariah di UB) saya menjadi tau, ternyata islam menganjurkan untuk ber-investasi. Jika kita menabung, selain “seakan menimbun harta” juga menghambat laju ekonomi.

Ekonomi bisa cepat terbangun dengan perputaran uang, maka tanpa adanya uang bisnis pasti akan macet.

Salah satu bukti bahwa islam lebih menganjurkan investasi adalah dengan adanya rukun islam tentang zakat. Ya, dengan zakat secara tidak langsung menyuruh kita untuk produktif, uang, emas, dan barang berharga jika tidak kita gunakan maka terkena zakat. Dengan demikian zakat merupakan gerakan untuk berinvestasi, jika kalian mempergunakan uang atau barang tersebut dalam rangka investasi (dunia/akhirat) maka tidak terkena zakat.

Selain itu Zakat yang diberikan kepada penerima zakat (mustahik) akan meningkatkan pendapatan mereka, jika pendapatan mereka meningkat yang terjadi konsumsi terhadap barang tertentu akan meningkat, itu berarti daya beli mustahik atas suatu produk kebutuhan mereka akan naik, jika itu terjadi peningkatan daya beli produk akan berimbas pada kenaikan permintaan suatu produk tersebut, peningkatan permintaan akan mendorong perusahaan untuk lebih produktif dalam memproduksi barang tersebut. Imbas dari kenaikan produksi adalah menambah lapangan pekerjaan kepada masyarakat guna memenuhi kapasitas produksi. Dan pada akhirnya pengangguran bisa berkurang.

_________________________
Selain sebagai pendorong investasi, ternyata zakat juga berpengaruh terhadap makro ekonomi.
_________________________

Inti dari penjelasan diatas adalah, berhentilah menabung, pergunakan uang sebagai fitrahnya (bukan berarti boros). Investasi juga tidak selalu tentang duniawi, investasi akhirat juga salah satu pilihan yang perlu di perhatikan.

Lalu muncul pertanyaan, siapakah yang memulai membuat slogan “rajin menabung pangkal kaya” ??? silahkan baca judul postingan ini.

Akhir kata, mengutip perkataan dari AA Gym
“zakat harus dihitung, kalau sedekah jangan hitung-hitungan”


Sampai jumpa ^_^
Baca selengkapnya